
Kalau bisa, marilah kita berkiprah secara sewajar mungkin atau seoptimal mungkin cukup sesuai dengan tugas, fungsi, posisi maupun profesi kita sendiri masing-masing, dan tentu saja tanpa melakukan kejahatan luar biasa seperti korupsi, kolusi, nepotisme maupun koncosme.
Kalau memang masih bisa dan boleh bersikap bijaksana, untuk apa bersikap picik, main injak sana maupun injak sini secara sembarangan?
Kalau memang masih bisa dan masih boleh melakukan hal-hal yang baik-baik dan bermanfaat-bermanfaat - untuk apa melakukan hal-hal yang tidak baik dan tidak bermanfaat?
Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi yang bisa kita harapkan untuk mengubah nasib kita agar jadi lebih baik? Marilah kita perbaiki nasib kita sendiri masing-masing, justru dengan memperbaiki niat dan sikap hidup kita sendiri.
Jangankan dari para guru maupun dosen, bahkan dari rumput yang sering kita injak-injak pun kita bisa dan boleh saja belajar.
Sebagai orang yang benar-benar bahagia, apa salahnya kita membuat diri kita menjadi lebih bahagia, justru dengan membuat teman-teman kita bisa dan boleh benar-benar tambah bahagia.
Mengapa banyak orang hampir selalu berpikir bahwa menolong, adalah posisi maupun hal yang lebih baik daripada ditolong, padahal keduanya bisa sama-sama baik dan bisa sama-sama buruk, karena kedua-duanya sama-sama sangat amat tergantung pada niat dan cara kita menyikapinya.
Membaca maupun menulis hal-hal yang benar-benar baik dan bermanfaat bagi kemaslahatan kita bersama memang penting, tetapi mempraktikkan serta mewujudkan apa-apa yang sudah kita baca maupun tulis ternyata lebih penting!
Kalau bisa, janganlah melakukan hal-hal yang belum pantas, belum perlu, belum mampu, belum sempat, belum ikhlas, dan belum mantap kita lakukan. Merdeka!
Kalau lingkungan hidup kita sudah baik, apa salahnyalah kita bersikap lebih baik? Tetapi kalau lingkungan hidup kita sudah mulai kotor maupun rusak, apa salahnya kita bersihkan dan perbaiki?