
Kalau bisa, marilah kita berkiprah secara sewajar mungkin atau seoptimal mungkin cukup sesuai dengan tugas, fungsi, posisi maupun profesi kita sendiri masing-masing, dan tentu saja tanpa melakukan kejahatan luar biasa seperti korupsi, kolusi, nepotisme maupun koncosme.
Kalau ingin bahagia, syukurilah hal-hal positif atau maslahat yang telah terjadi pada diri kita selama ini. Tetapi jika ingin lebih bahagia, justru syukurilah semua hal, tidak perduli yang positif maupun yang negatif.
Sebagai manusia berbudaya dan beragama, sudah selayaknyalah kita membuka diri untuk mempelajari, memahami, dan menerima segala bentuk kearifan lokal maupun interlokal yang benar-benar baik dan bermanfaat bagi kemaslahatan kita bersama yang berkeadilan.
Dua arti nasihat Batara Semar yang berbunyi “Ojo Dumeh” itu sebetulnya bisa berbarti jangan mentang-mentang dan jangan mentung-mentung!
Tidak ada hari yang tidak baik bagi orang-orang yang memang benar-benar baik, jujur, ramah, bertanggung jawab, bersyukur, dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bagi kemaslahatan kita bersama.
Memilih serta menjalankan secara baik dan jujur keyakinan yang baik dan jujur, adalah salah satu (bukan satu-satunya) hak asasi kita sebagai manusia yang berakal budi.
Kalau ingin bahagia, syukurilah hal-hal positif atau maslahat yang telah terjadi pada diri kita selama ini. Tetapi jika ingin lebih bahagia, justru syukurilah semua hal, tidak perduli yang positif maupun yang negatif.
Niat baik dan berpikir positif tentu saja belum cukup untuk memperbaiki keadaan kalau belum benar-benar diwujudkan dalam bentuk kebaikan maupun kebajikan yang nyata.
Kalau bisa, janganlah biarkan uang, harta, ijazah akademik, status sosial, ocehan maupun keluhan para pengeluh menggoyahkan tekad kita untuk membela kebenaran yang benar-benar berkeadilan dan keberadaban!
Kalau bisa, biasakanlah untuk bersikap teliti, cermat, dan hemat sejak merencanakan apapun! Terima kasih!