
Sebagai manusia berbudaya dan beragama, sudah selayaknyalah kita membuka diri untuk mempelajari, memahami, dan menerima segala bentuk kearifan lokal maupun interlokal yang benar-benar baik dan bermanfaat bagi kemaslahatan kita bersama yang berkeadilan.
Tertawa maupun tersenyum itu memang menandakan bahwa kita sehat dan bisa menyebabkan kita tambah sehat, tetapi (kalau bisa) tolong janganlah sampai suka tertawa maupun tersenyum tanpa sebab-sebab yang jelas dan masuk akal. Terima kasih!
Kalau bisa, marilah kita tingkatkan “kecemburuan berbuat sosial yang positif dan konstruktif” justru untuk menurunkan “kecemburuan sosial yang negatif dan destruktif!”
Manusia “beriktikad” adalah manusia yang percaya bahwa kecerdasan akademik sangat amat pantas dan perlu diimbangi dengan kecerdasan emosional, kecerdasan sosial maupun kecerdasan spiritual.
Taat beragama memang indah, tetapi terlalu taat atau fanatik beragama bisa saja jadi musibah!
Kami (keluarga Joger-Balinesia) sangat bersyukur atas diangkatnya banyak orang kita yang hebat-hebat sebagai pahlawan nasional, tetapi kami heran dan prihatin karena belum melihat maupun mendengar Pak Hoegeng dan Ibu Hoegeng, kok belum secara resmi diakui sebagai pahlawan nasional kita?
Zaman boleh edan, tetapi kita sebaiknya tetap bersikap waras yang beriktikad secara berkesinambungan.
Dari sekian banyak suara yang sangat amat pantas dan perlu kita dengar, adalah suara hati nurani kita yang terdalam! Terima kasih!
Niat baik dan berpikir positif tentu saja belum cukup untuk memperbaiki keadaan kalau belum benar-benar diwujudkan dalam bentuk kebaikan maupun kebajikan yang nyata.
Tidak ada hari yang tidak baik bagi orang-orang yang memang benar-benar baik, jujur, ramah, bertanggung jawab, bersyukur, dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bagi kemaslahatan kita bersama.