
Hemat boleh, kikir jangan! Tegas boleh, kejam jangan! Cerdik boleh, licik jangan! Suka boleh, ketagihan jangan! Bangga boleh, sombong jangan! Sedih boleh, merana jangan! Rajin boleh, gila kerja jangan! Hidup enak boleh, seenaknya jangan! Nakal boleh, jahat jangan! Kreatif boleh, destruktif jangan! Meniru boleh, menjiplak jangan!
Apa gunanya memahami, memaafkan maupun menerima orang lain, kalau memahami, memaafkan maupun menerima diri kita sendiri saja masih belum benar-benar kita lakukan secara optimal!
Apa gunanya IQ (Intelligence Quotient) dan (EQ Emotional Quotient) tinggi, kalau GQ (Gratitute Quotient) atau “kecerdasan bersyukur” kita rendah, suka mengeluh, pelit, cerewet, dan tidak pernah mau mensyukuri hal-hal sederhana
yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Mahapemurah dan Mahapenyayang?
Lebih baik punya satu atau dua dompet kecil yang selalu penuh dengan uang besar yang halal, legal, dan logis daripada punya banyak dompet besar yang hampir tidak pernah berisi uang halal, legal maupun logis. He., he., he.
Kalau bisa, lakukanlah hal-hal yang benar-benar pantas dan perlu kita lakukan secara benar-benar baik, jujur, adil, beradab, dan berkesinambungan sampai kita tidak lagi punya kemampuan maupun kesempatan untuk melakukannya.
Dilarang makan uang! Lebih baik, lebih aman, dan lebih sehat kalau kita
makan saja makanan yang benar-benar pantas, perlu, mampu, sempat, ikhlas, dan mantap kita makan secukupnya. Merdeka! Terima kasih!
Kalau bisa - bagilah waktu-waktu kita yang 24 jam setiap hari menjadi tiga porsi. Porsi 8 jam yang pertama untuk belajar, bekerja maupun berkarya. Porsi 8 jam yang kedua untuk beristirahat, tidur maupun bermimpi. Porsi 8 jam yang ketiga untuk jalan-jalan, main-main, santai-santai maupun menikmati waktu luang.
Tidak perlu punya pekerjaan tetap, yang penting hampir selalu punya kegiatan positif (yang baik dan bermanfaat) bagi kemaslahatan kita bersama.
Untuk memperluas wawasan, kita harus banyak lihat, banyak baca, banyak dengar, banyak belajar, banyak teman, dan bersedia merantau ke sana ke mari.
Apa gunanya memahami, memaafkan maupun menerima orang lain, kalau memahami, memaafkan maupun menerima diri kita sendiri saja masih belum benar-benar kita lakukan secara optimal!