Dispromosi

Dispromotion adalah sebuah konsep promosi yang tidak mempromosikan. Dalam arti, dalam berpromosi kita bersikap (berpikir, berkata dan melakakukan segala sesuatu yang kita anggap pantas, perlum mampu & sempat) secara positif untuk mencapai jumlah penjualan yang optimal, bukan maksimal, dengan landasan orientasi kearah tujuan happiness bukan profit. Dalam dispromotion kita hanya menguraikan kebaikan-kebaikan produk-produk/jasa-jasa yang kita tawarkan, tapi justru secara jujur & ramah senantiasa memaparkan kejelekan-kejelekan dan kelemahannya. Dispromotion adalah sebuah konsep promosi yang hanya bisa dan pantas dilakukan oleh kita (mereka) yang sebenarnya sudah merasa bersyukur terhadap apa-apa yang sudah berhasil kita (mereka) capai, sehingga kita (mereka) tidak terlalu ambisius lagi dalam meningkatkan jumlah penjualan atau profit secara drastis dan maksimal. Sepintas lalu atau setidak-tidaknya saat ini, konsep dispromotion ini mungkin masih disalah artikan sebagai sikap yang tidak waras, tidak ilmiah dan kontraproduktif, karena isinya seringkali justru menyadarkan konsumen untuk bersikap lebih kritis dan lebih rasional dalam berbelanja. Karena dalam dispromotion kita tidak menyikapi konsumen sebagai obyek, tetapi sebagai sesama subyek yang sedapat mungkin (secara baik-baik, legal dan menyenangkan) kita ajak untuk ikut merasa memiliki perusahaan kita secara wajar dan berkesinambungan. Dalam jangka pendek, konsep dispromotion ini bisa terasa seperti kontraproduktif, tapi untuk jangka panjangnya sudah terbukti bukan hanya profitable, tapi juga membahagiakan semua pihak. Waktu dan kenyataan telah membuktikannya. Karena konsep dispromotion ini toh sudah sempat kami jalankan/praktekkan secara konsisten dan konsekuen selama 30 tahun (1980 s/d 2010), sehingga kami pun begitu yakin bahwa konsep ini sudah cukup berhasil dalam meraih profit maupun benefit secara optimal, dan kami juga yakin bahwa akan tetap demikin adanya, terutama juga karena telah terbukti bahwa konsep dispromotion ini sudah secara nyata sanggup menciptakan kebahagiaan bagi banyak pihak, dalam arti bukan hanya sanggup membahagiakan kami sanggup membawa kebahagiaan bagi pihak-pihak lain yang tak berhubungan dengan langsung dengan kami, seperti halnya pemerintah, olahragawan, cendekiawan, orang-orang yang kurang mampu serta lingkungan hidup. Karena dalam mempraktekkan konsep dispromotion ini, kami bukan hanya sekedar beriklan atau cuap-cuap menyampaikan informasi-informasi tentang produk-produk dan jasa-jasa kami yang “jelek-jelek dan mahal-mahal” saja, tapi secara jujur dan ramah kami juga rajin memberikan informasi-informasi/anjuran-anjuran/pelayanan masyarakat di samping secara rutin juga tetap melakukan bakti sosial-bakti sosial nyata sehubungan dengan komitmen positif kami terhadap persoalan-persoalan sosial dan lingkungan hidup.

* Dari awal tahun 1981 sampai sekarang (November 2010), tak kurang dari 4000-an iklan yang berbeda-beda telah kami buat & pasang di Mass media yang berbeda-beda juga. Walaupun ada dokumentasinya, tapi sayang tidak terlalu lengkap, karena kami tidak pernah berpikir bahwa itu akan diperlukan. Pada tahun 1997, kami sempat mendapat penghargaan dari MURI (Meseum Rekor Indonesia) karena 10 tahun berturut-turut memasang iklan di berbagai mass media dengan bunyi yang berbeda-beda. Tahun 1979-2000 mendapat penghargaan dari Bali News, Weekly English, sebagai Most Distinguished Person. Tahun 2000, mendapatkan penghargaan ‘Adi Nugraha Bahasa’ dari Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Tahun 2000, mendapatkan penghargaan dari PWI Jawa Tengah, sebagai Man of The Year. Tahun 2001, mendapatkan penghargaan Enterprize 50 dari SWAsembada. Tahun 2002, dinobatkan sebagai Sang Paradoks oleh Majalah Manajemen. Tahun 2006, mendapatkan penghargaan dari MURI (Meseum Rekor Indonesia) sebagai pemrakarsa dan penghasil desain terbanyak (lebih dari 5.000 desain). Tahun 2007, mendapat penghargaan dari MURI (Meseum Rekor Indonesia) sebagai pelopor pembuat tulisan dengan huruf Braille pada media kaos. Tahun 2009, dinobatkan sebagai The President of Word oleh Insight Bali Magazine. Tahun 2010, kembali mendapat penghargaan dari MURI (Meseum Rekor Indonesia) karena sudah membuat lebih dari 6.000-an desain (kata-kata) yang diterapkan pada berbagai barang. Sedangkan untuk bakti sosial yang sebenarnya hanya wajib (kami mewajibkan diri sendiri) kami lakukan minimal 1 kali kerja bakti & bakti sosial ke desa-desa, baik bersama kelompok sosial lain maupun hanya keluarga joger (tidak bekerja sama dengan pihak lain).