
Orang-orang yang takut gagal sebenarnya sama saja dengan orang-orang yang takut berhasil atau takut sukses, karena pada dasarnya mereka semua adalah orang-orang yang penakut. Bersatu kita teguh, bercerai untuk apa???
Apa gunanya mengaku diri kita "berani-mati", kalau ternyata kita hanya takut hidup secara benar-benar baik, jujur, adil, beradab, sederhana, dan bertanggungjawab?
Tuntut, kuasai, dan manfaatkanlah semua ilmu yang ada di alam semesta ini demi kebahagiaan hidup kita, tetapi tetaplah jangan biarkan ilmu-ilmu itu menuntut, menguasai, dan menyalahgunakan atau apalagi menjajah hidup kita!
Barang siapa tidak mau dan/atau tidak mampu menguasai dirinya sendiri, cepat atau lambat, biasanya pasti akan dikuasai oleh pihak lain!
Harus kita akui bahwa sebenarnya kita punya banyak alasan negatif untuk melakukan kekerasan di kehidupan kita yg keras ini, tapi sebenarnya kita juga punya lebih banyak alasan positif untuk saling menghormati, saling menghargai, dan saling mencintai.
Pada dasarnya kepala (kadang-kadang) memang harus pusing, karena kalau bukan kepala, lalu anggota badan kita yang mana yang harus pusing? he..he..he. Merdeka!
Dekat di mata, bisa saja dekat (juga) di hati, tetapi jauh di mata, bisa saja dekat di hati. Dan/tetapi walaupun sangat dekat di mata, tetap saja bisa jauh di hati. Semuanya sangat tergantung pada niat, persepsi, kebiasaan, kebutuhan, kesepakatan, maupun keputusan pihak-pihak yang terkait. Joger tidak jauh tidak dekat, karena tetap hanya ada di Bali saja.
"Hampir-gagal" lebih baik daripada "hampir-tidak-gagal!" Karena hampir "putus-asa" lebih baik daripada hampir "tidak-putus-asa!"
Orang yang otak serta hatinya sudah dipenuhi dengan hal-hal atau konsep-konsep yang negatif (mudarat), biasanya tidak punya cukup ruang lagi untuk hal-hal/konsep-konsep yang positif (maslahat). Makanya, marilah kita perluas ruang untuk hal-hal/konsep-konsep yang positif, sambil tetap memberikan sisa ruang untuk hal-hal/konsep-konsep negatif yang sudah kita jinakkan dan kontrol agar tidak jadi destruktif!
Dekat di mata, bisa saja dekat (juga) di hati, tetapi jauh di mata, bisa saja dekat di hati. Dan/tetapi walaupun sangat dekat di mata, tetap saja bisa jauh di hati. Semuanya sangat tergantung pada niat, persepsi, kebiasaan, kebutuhan, kesepakatan, maupun keputusan pihak-pihak yang terkait. Joger tidak jauh tidak dekat, karena tetap hanya ada di Bali saja.