
Doa terbaik bagi para pekerja, adalah bagaimana kita sebagai pekerja bekerja secara sebaik mungkin, sejujur mungkin, serajin mungkin, dan seproduktif
mungkin, justru agar bos kita bersyukur punya pekerja seperti kita!
Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi yang bisa kita harapkan untuk mengubah nasib kita agar jadi lebih baik? Marilah kita perbaiki nasib kita sendiri masing-masing, justru dengan memperbaiki niat dan sikap hidup kita sendiri.
Orang-orang yang punya hati yang benar-benar bersih dan mulia, biasanya cenderung akan dengan sangat amat mudah melihat orang lain sebagai sesama yang berhati bersih dan mulia.
Kalau memang masih bisa dan boleh bersikap bijaksana, untuk apa bersikap picik, main injak sana maupun injak sini secara sembarangan?
Kalau memang masih bisa dan masih boleh melakukan hal-hal yang baik-baik dan bermanfaat-bermanfaat - untuk apa melakukan hal-hal yang tidak baik dan tidak bermanfaat?
Tuhan kita yang Maha Esa memang selalu Mahabaik, tetapi sayang tidak semua penyembah Tuhan benar-benar mau dan mampu selalu bersikap baik, he., he., he.
Kalau bisa, marilah kita tingkatkan “kecemburuan berbuat sosial yang positif dan konstruktif” justru untuk menurunkan “kecemburuan sosial yang negatif dan destruktif!”
Paling repot berurusan dengan penguasa yang berwawasan sempit, tapi kekuasaannya besar dan luas. Makanya kalau sudah jadi penguasa, janganlah lupa memperluas wawasan!
Manusia “beriktikad” adalah manusia yang percaya bahwa kecerdasan akademik sangat amat pantas dan perlu diimbangi dengan kecerdasan emosional, kecerdasan sosial maupun kecerdasan spiritual.
Marilah kita hargai dan pelihara cinta kita, justru dengan menjaga agar kita tidak terlalu sering melakukan hal-hal negatif atau aneh-aneh yang perlu atau harus dimaafkan oleh sesama atau apalagi oleh orang yang sangat amat mencintai dan kita cintai sepenuh hati!