
Kalau bisa, janganlah berkeinginan untuk memperkaya diri dengan atau sambil membiarkan dan/atau apalagi sambil membuat orang lain jadi tambah miskin secara berkesinambungan.
Selama kita benar-benar masih mau belajar, kita tidak perlu sampai merasa lebih bodoh maupun lebih pintar daripada siapa pun juga!
Di zaman edan seperti sekarang ini orang cenderung lebih mudah curiga daripada percaya pada sesama, makanya bersyukurlah jika masih ada orang tidak edan yang masih mau percaya kepada kita!
Marilah kita cintai diri kita, agama kita, keyakinan kita, dan kelompok kita sendiri secara wajar, dalam arti tanpa berpikir jahat atau apalagi sampai benar-benar menghancurkan dan/atau membinasakan pihak lain.
Banyak-banyaklah membaca bacaan yang pantas dan perlu kita baca. Jauhilah bacaan yang tidak pantas dan tidak perlu kita baca! Oke?
Sebelum belajar lari, harus belajar jalan dulu. Sebelum belajar jalan, harus belajar berdiri dulu. Sebelum gagah-gagahan mengurus atau membela orang lain, urus dan belalah diri kita sendiri dulu tanpa melanggar moral, etika, hukum, adat-istiadat, dan sopan santun.
Lakukanlah hal-hal yang pantas-pantas dan perlu-perlu kita lakukan, sesuai dengan kemampuan dan kesempatan kita, maka kita pun akan memperoleh hal-hal yang menyenangkan dan membahagiakan di masa depan yang cerah dan semoga masih panjang.
Uang maupun harta yang banyak bisa saja jadi anugerah, kalau benar-benar mau, mampu, sempat, ikhlas, dan mantap kita sikapi atau kelola secara benar-benar baik, jujur, adil, beradab, bertanggungjawab, dan berkesinambungan.
Kalau bisa, janganlah remehkan “waktu, ruang maupun uang”, karena kalau mereka kita remehkan janganlah heran mereka pun akan meremehkan kita pada suatu saat.
Doa terbaik bagi kita sebagai bos, adalah bagaimana kita memberikan contoh yang baik sambil memberikan kesejahteraan, kegembiraan maupun kebahagiaan yang memadai kepada para pekerja kita.