
Kebahagiaan itu sebenarnya, adalah ketika kita berhasil meraih cita-cita maupun impian kita secara benar-benar baik, jujur, adil, beradab, wajar, dan optimal tanpa mengganggu maupun menghalangi orang lain meraih cita-cita maupun impian mereka.
Dimana bumi dipijak, di sanalah langit seharusnya dijunjung, dan/tetapi di mana pun kita diterima, dihargai, dan dihormati sebagai “langit”, di sanalah seharusnya kita bersikap lebih baik dan lebih bijaksana, justru agar jangan sampai ada orang maupun pihak yang kita injak-injak kepala, tangan, kaki maupun “kantong”-nya!
Memilah-milah, memilih maupun menjalankan keyakinan yang benar-benar baik, adalah salah satu (bukan satu-satunya) hak asasi manusia yang benar-benar (tidak seolah-olah) saja baik. Terima kasih!
Kalau memang ingin panjang umur, tutuplah rapat-rapat telinga maupun mulut ketika kita dipanggil Tuhan! Oke? Terima kasih!
Isi otot, isi perut maupun isi kantong memang penting, tetapi isi otak maupun isi hati juga penting.
Berpura-pura memang tidak baik, tetapi kalau kita sudah memang harus berpura-pura demi “perdamaian dunia”, berpura-puralah secara benar-benar baik, jujur, adil, beradab, bermoral, beretika, dan berkesinambungan. Terima kasih!
Kemakmuran tanpa keadilan sebenarnya sama saja dengan “bom waktu” yang setiap saat siap meledak! Makanya, kalau bisa, marilah kita hidup bersama secara wajar-wajar atau secara optimal-optimal saja! Terima kasih!
Jadi manusia itu sebaiknyalah wajar-wajar saja! Dalam arti, janganlah sampai “terlalu-kurang-ajar” maupun sampai “terlalu-lebih-ajar”.
Uang dalam jumlah yang terlalu besar, sangat berpotensi membuat manusia lupa bahwa hanya Tuhan (kita bersama) Yang Maha Esa lah Yang Mahabesar!
Kalau tidak ingin kecewa di kemudian hari, janganlah menilai pribadi seseorang hanya dari muka(k) maupun dari belakangnya saja, tapi perhatikanlah juga dari kiri, kanan, atas, dan bawah, terutama isi otak dan isi hatinya, oke?