
Kebebasan berbicara adalah salah satu (bukan satu-satunya) kebebasan yang boleh dan bisa kita manfaatkan secara benar-benar baik, jujur, wajar, optimal, adil, beradab, dan berkesinambungan.
Sebagai manusia yang benar-benar masih ingin hidup sehat dan panjang umur, kegiatan yang sangat penting dan tidak boleh kita lupakan lebih dari 5 menit, adalah kegiatan bernafas!
Bibit yang baik kalau ditanam di lahan yang baik, akan tumbuh subur menjadi pohon yang baik, begitu pula dengan manusia yang dari keturunan orang baik-baik lalu hidup di kalangan orang baik-baik tentu saja akan jadi manusia yang benar-benar baik dan bermanfaat.
“Berpikir positif” adalah salah satu sikap yang baik dan sejuk, tapi tentu saja akan bisa lebih baik dan lebih sejuk, kalau diikuti dengan perasaan, perkataan maupun perbuatan yang positif juga.
Yang seharusnya sangat amat pantas dan perlu secara kompak, guyub, ikhlas, mantap, serius, transparan, dan berkesinambungan kita sepakati sebagai yang terbaik itu adalah optimal, bukan maksimal, dan juga bukan minimal! Setuju? Setuju tidak setuju, tetap thank you alias terima kasih!
Yang benar-benar pantas dan perlu kita baca itu adalah tempo bukan tempe! Terima kasih!
Kalau memang mau kecewa, kecewalah pada kemalasan dan kecerobohan kita sendiri! Jika memang mau iri, irilah pada proses dan perjuangan yang membuat mereka maju, sukses, dan bahagia!
“Nasib buruk” sebenarnya bisa saja kita ubah menjadi “nasib baik”, asalkan “niat dan sikap buruk" kita benar-benar mau, mampu, sempat, ikhlas, dan mantap kita ubah menjadi baik maupun lebih baik.
Kalau “berbeda” itu sudah hampir selalu ada di antara kita, apa salahnya kalau kita kerahkan serta arahkan kemauan serta kemampuan kita untuk menghormati serta menghargai segala bentuk perbedaan yang ada dan akan tetap ada di antara kita?
Sebagai manusia berbudaya dan beragama sudah selayaknyalah kita membuka diri untuk mempelajari, memahami, dan menerima segala bentuk kearifan lokal maupun interlokal yang baik dan bermanfaat bagi kemaslahatan kita bersama.