Miliki & Jalankanlah Iktikat Sebagai Conditio Sine Qua Non

Ada suatu syarat mutlak (condition sine qua non) yang harus kita miliki serta jalankan secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan juga, yaitu memiliki dan jalankan iktikad/keyakinan/niat yang benar-benar baik. Atau dalam kata lain (yang lebih sederhana), marilah kita benar-benar punya niat untuk bersikap adil (wajar) untuk benar-benar kita laksanakan secara baik, benar dan berkesinambungan , sebelum kita wujudkan sebuah tatanan masyarakat yang makmur (sejahtera,damai,sehat, dan bahagia lahir batin di dunia maupun di akhirat kelak). Karena dalam praktiknya, ketika kemakmuran (profit) dikejar-kejar tanpa adanya iktikad/keyakinan/niat baik itu? Memang banyak orang berbicara dan/atau bahkan berdebat tentang arti kata “baik”, yang lebih banyak diartikan sebagai hal atau sifat yang sangat amat relatif, dimana dikatakan “sesuatu yang baik (adil/wajar/bisa diterima) untuk Anda,belum tentu baik untuk Andi”,dan”sesuatu yang baik (baik/wajar/bisa diterima) untuk orang yang sudah kaya, belum tentu baik untuk orang yang masih miskin”. Nah, justru untuk mengurangi (sebelum menghapuskan) adanya “perdebatan kusir” yang membingungkan dan membuat kita hanya sibuk berdebat terus (tanpa memilih dan menjalankan iktikad/keyakinan/niat yang benar-benar baik) secara berlarut-larut, maka saya (Mr.Joger) pun membranikan diri untuk mencoba menjelaskan tentang arti kata “baik” dalam bentuk membaginya menjadi tiga jenis kebaikan, adapun kebaikan jenis pertama adalah kebaikan tingkat dasar yang minimal yang harus kita miliki serta jalankan jika kita ingin jadi orang baik dan layak dianggap orang baik oleh orang-orang,yaitu di mana keadaan kita sedang atau sudah tidak bikin susah orang, dalam arti ketika kita sudah tidak bikin susah orang lain, tapi juga sudah dan sedang tidak bikin susah diri kita sendiri (yang walaupun bagaimana, kan juga orang, bukan orong-orong atau orang aring atau orang-orangan). Jenis kebaikan yang kedua, adalah kebaikan “orang kaya”, yaitu keadan di mana hidup kita sudah berkecukupan, sehingga kita pun malah sudah mau atau mampu membantu sesama yang pantas, perlu dan mau menerima bantuan kita secara wajar.(tidak kurang ajar). Dan kebaikan jenis ketiga, adalah jenis kebaikan yang tidak kami anjurkan, tapi juga tidak kami larang untuk Anda lakukan, yaitu kebaikan yang sudah terlalu baik, atau “kebaikan tingkat orang suci”, yaitu kebaikan yang sampai pada titik mengorbankan diri kita sendiri secara berlebih-lebihan. Contoh pertamanya : ketika kita sendiri masih atau sudah tidak punya uang atau makanan atau minuman atau obat atau waktu, lalu kita malah meminjam atau mengemis ke sana ke mari untuk mendapatkan uang atau makanan atau minuman atau obat atau waktu, untuk kita berikan kepada teman-teman atau pihak-pihak yang kita anggap butuh dan mau menerima bantuan. Contoh kedua : ketika mata kiri kita sudah buta total, lalu kita sumbangkan mata kanan yang masih berfungsi kepada teman kita yang kedua-dua matanya sudah buta, setelah itu malah kita yang harus dituntun ke sana ke mari (merepotkan orang lain). Contoh ketiganya : ketika kita punya sebutir obat ajaib yang bisa menyembuhkan segala penyakit, dengan syarat kita harus mengkonsumsi obat itu sebutir secara utuh, tapi karena melihat para tetangga juga sedang sakit keras dan sangat amat membutuhkan obat itu, lalu karena tersesat oleh konsep sama rata sama rasa, dengan gagah tapi gegabah., kita pun membelah sebutir obat kita untuk menjadi beberapa keeping kecil untuk kita bagi-bagikan secara merata kepada semua tetangga kita yang sedang sakit keras itu, dan ternyata semua tetangga dan termasuk diri kita sendiri pun tetap sakit, bahkan ada beberapa yang meninggal dunia. Dari sebab itulah, mari kita ramai-ramai sadari , pahami, miliki serta laksanakan iktikad/keyakinan/niat baik secara benar-benar baik, adil, beradap, realistis, konstruktif, kreatif, inovatif dan berkesinambungan (jangan hanya sekali-sekali atau hanya waktu-waktu tertentu saja), sehingga sebuah tatanan (keadaan) masyrakat yang adil dan makmur pun bisa dan bole benar-benar terwujud dan berkembang secara wajar dan berkesinambungan juga. Intropeksi, mawas diri, buka otak, hati mulut dan kantong kita untuk memikirkan , merasakan, mengucapkan, serta menciptakan hal-hal yang lebih maslahat secara baik, jujur, ramah, rajin, bertanggung jawab, berimajinasi, berinisiatif, berani, bersyukur, sehingga kita pun bisa & boleh benar-benar bermanfaat bukan hanya bagi diri atau bagi keluarga atau bagi kelompok atau bagi partai atau bagi agama dan/atau bagi bangsa kita sendiri saja. Holistik & merdeka! (HC Joger,27052010 SMNR)