Kisah Petualangan Joger ke Alam Baka

Suka tidak suka, mau tidak mau, pada suatu saat nanti saya pasti akan mati juga. Di saat mati, secara instingtif jiwa saya pasti ingin masuk surga. Menurut cerita atau ajaran orang tua, konon surga itu letaknya diatas, maka nanti ketika mati, jiwa saya pun akan menuju ke atas untuk mencari surga. Ternyata surga memang ada, bahkan ada pintunya, tapi suasananya terasa sepi dan lengang. Tok..tok..tok, pintu surga saya ketok, pintu surga yang tampaknya sangat jarang di buka itu pun mengeluarkan bunyi “ngiiieete”.

Tampak ada beberapa petugas sedang berada di lobby surga. Salah satunya dari mereka di dadanya ada tanda nama bertuliskan “PETRUS” menyapa saya, “Selamat datang di pintu surga!”

“Good morning selamat pagi,” sambut saya memberi salam riang.

“Bapak Petrus ya! Kakak saya juga kebetulan bernama Petrus.” tambahku sekedar memperakrab suasana.

“Saya tidak peduli nama kakak Anda Petrus atau tidak, tapi anda sendiri siapa dan mau apa kemari?,” tanyanya tegas.

“Lho apa ini benar surga?,” tanyaku meyakinkan diri. “Iya.. ini memang surga, kamu bisa baca nggak. Di papan itu khan sudah jelas tertulis. Tapi mau apa kamu kemari?,” tanyanya semakin tegas dan keras.

“Memang saya sudah baca tulisan SURGA itu, tapi karena apa koq begini sepi?,” tanyaku ragu

“okey, kamu boleh saja ragu, tapi sekarang ini apa tujuanmu datang kemari?,” tanya Pak Petrus itu.

“Begini lho Pak. Saya ini Joseph atau di dunia saya lebih dikenal sebagai Mr. Joger. Didunia saya cukup terkenal. Apalagi di kalangan anak-anak muda. Saya adalah pencetus filosofi dan gerakan moral GARING yang banyak mengajak dan menganjurkan orang-orang untuk berbuat social atau berbuat baik untuk Penanaman Modal Akhirat,” kataku bangga sambil mengeluarkan beberapa gulungan kertas fotocopy kegiatan GARING yang ingin kutunjukkan kepadanya.

Waktu itu petugas jaga pintu surga yang on duty kebetulan ada sembilan orang. Tiba-tiba saja mereka ikut mendekat. Rupa-rupanya mereka tertarik untuk ikut melihat gulungan fotocopy yang sawa bawa. Dengan gagah dan bangga saya bentangkan kertas-kertas itu diatas meja tua yang ada di ruangan itu (“belum tahu dia!” pikir ku). Tapi alangkah kaget dan malunya saya waktu itu, karena ternyata fotocopy kegiatan GARING yang dulu jelas-jelas penuh dengan angka-angka dan tanggal-tanggal kegiatan social itu, malah kosong melompong bagaikan kertas putih yang tidak pernah ditulisi apa-apa. Bahkan bekas-bekasnya pun tak tampak sama sekali.

“Apa sih maksud kamu menunjukkan kertas-kertas kosong ini kepada kami. Kurang kerjaan atau apa?,” kata salah satu petugas penjaga surga itu ketus. (Menurut ramalan cuaca, konon segala perbuatan baik atau perbuatan social yang secara sengaja ditulis dan ditunjuk-tunjukkan untuk bangga-banggaan, akan terhapus begitu saja, terutama di pintu surga)

Wah, saya benar-benar malu campur tangan bingung. Dulu ketika masih hidup, saya sudah mewanti-wanti kalau nanti saya mati, tolong jangan lupa ikut kuburkan daftar kegiatan GARING dan daftar bakti social yang secara rutin setiap bulan minimal satu kali kita lakukan. Tapi ini koq saya hanya dibekali lembaran-lembaran kertas kosong melompong?. Astaga! Tapi saya tidak putus asa. Lalu saya coba mendekati salah satu dari petugas yang saya anggap paling tidak galak.

“Pak, kalau menurut Bapak apakah disini tidak ada buku yang berisi nama-nama orang-orang berikut catatan segala perbuatannya selama hidup di dunia secara lebih lengkap?,” kataku.

“Maaf dik, disini yang ada cuma buku ini saja dan semua nama-nama beserta alamat orang-orang lengkap dengan amal baktinya sudah tercatat

Garing adalah gerakan
moral orang-orang waras
yang sudah merasa mampu
dan mau bersyukur kepada
Tuhan atas rezeki tiGA
piRING sehari.

disini. Tapi khusus untuk orang-orang yang beriman saja. Kalau dilihat dari penampilan anda, sudah jelas mana anda tidak mungkin tercantum dalam buku ini. Lihat saja gigi depan anda merah semua, dan hidung anda juga belang belut. Itu menandakan bahwa dulu ketika masih hidup anda adalah orang yang terlalu banyak memakai logika atau akal. Anda juga termasuk orang yang tingkat keikhlasannya patut diragukan,” jelas petugas yang namanya tak seberapa jelas terbaca itu.

Saya lalu meminta tolong agar beliau mau mengecek ulang buku tebal yang ada di atas mejanya itu.

“Maaf Pak, saya tidak bermaksud mempermainkan Bapak, tapi kalau sekiranya Bapak tidak berkeberatan, dan mumpung masih sepi, tolong cari dong nama saya yang dimulai dengan huruf J… Joseph atau Joger. Dulu saya pernah tinggal di Jl. Sulawesi, dan saya juga pernah tinggal di Jl. Nangka Denpasar. Saya banyak membantu orang miskin, banyak membantu yatim piatu, banyak membantu orang lepra. Saya adalah pencetus gerakan moral GIRING. Saya yakin nama saya pasti terdaftar di buku ini, Pak!,” pinta saya memelas.

Waktu itu saya jadi bingung karena Pak Petrus tampaknya sama sekali tidak terpengaruh olrh promosi jual kecapku. Saya yakin ini pasti terjadi kekeliruan. Saya tidak percaya! Masak orang seterkenal dan sebaik saya tidak terdaftar di buku surga?

“Nama saya memang Joseph, Pak. Tapi kadang-kadang juga ditulis Yoseph. Coba kita cari di deretan nama Yoseph saja Pak. Coba tolong dicek di bagian “Y” Pak!,” pinta saya agak bersemangat lagi.

Lalu Pak Petrus itupun kembali membuka buku tebalnya. Pak Petrus mulai menyebut satu-satu nama yang bernama depan Yoseph.

“Yoseph Batubara, Yoseph Estrada, Yoseph Johan, Yoseph Jaksa, Yoseph Jubran, Yoseph manolo.. Tapi Yoseph Joger malah nggak ada tuh!,” katanya agak sedih campur kesal.

Pada saat bersamaan, tampak seseorang mendekati lobby pintu gerbang surgayang sepi itu. Sinar matanya lembut seperti mata vegetarian, giginya putih bersih, hidungnya juga tampak bersih tidak belang. Dia tampak begitu percaya diri dan anggun. Saya tersenyum, dia pun ikut tersenyum ramah. Tiba-tiba saja saya merasa kenal dia. Dia khan Joko teman sekelas saya dulu di SD. Ya , dia Joko si tukang nyontek, tukang ngerepek. Tapi koq dia kelihatan begitu anggun dan berkharisma?. Tanpa banyak dan tanpa dihalangi, dia malah boleh masuk surga begitu saja.

“Wah ..wah..wah.., dai itu khan teman saya dulu waktu SD. Saya kenal dia. Dia khan terkenal sebagai tukang nyontek, tukang ngerepek, sekarang koq malah boleh masuk surga begitu saja?,” protes saya agak keras.

“ini pasti nepotisme atau kongkalikong, curang!,” tambah saya jengkel.

“Udah-udah.. kamu jangan bicara sembarangan disini. Disini tidak ada nepotisme, tidak ada kongkalikong, tidak ada kecurangan!,” bentak salah satu petugas berjubah kuning merah.

“Yang bener aja dong. Masak Joko tukang nyontek diperbolehkan masuk surga tanpa diperiksa segala. Lha, saya yang dulu tidak pernah nyontek koq malahan ditolak? Saya tidak bisa terima perlakuan tidak adil seperti ini. Harus ada reformasi!,” protes saya sambil menuding-nuding ke arah Joko yang tetap saja dengan tenang ngeloyor menyelinap masuk ke surga yang lebih dalam.

Pak Petrus datang mendekati saya. Lalu dengan nada suara yang direndahkan dia bersabda, “itu khan dulu waktu dia masih anak-anak memang dia suka terpaksa nyontek atau ngerepek di sekolah, karena malam harinya dia harus sering lembur membantu orang tuanya jualan pisang goreng, sehingga tidak sempat belajar. Tapi belakangan ketika sudah dewasa dan berkeluarga, si Joko itu khan tobat, bukan tomat seperti kamu he..he..he..”.

“Lho, apa itu tomat? “ sergahku heran.

Tomat itu adalah julukan untuk orang-orang semacam kamu yang belum lama tobat, tahu-tahu sudah kembali kumat he..he..he, “ jelas salah satu petugas berbaju hijau.

Penjelasan petugas berbaju hijau itu membuat saya lebih menyesali nasib saya. Kalau saja tahu nyontek dan ngerepek bisa ditebus dengan pertobatan, mengapa dulu waktu masih hidup saya tidak nyontek dan ngerepek saja dan mengapa saya hanya tomat bukan bener-bener tobat saja?,” demikian aku membatin.

“bagaimana kalau sekarang ini saja saya bertobat?,” tanya saya penuh harap.

“Oh, nggak bisa, nggak bisa lagi!,” jawab mereka seperti sebuah koor.

“Pertobatan hanya bisa dilakukan ketika jiwa dan badanmu masih bersatu di alam fana. Tapi kalau disini sudah tidak bisa lagi,” kata mereka.

Lalu satu persatu jiwa-jiwa berwajah alim dan sejuk tampak masuk ke surga tanpa banyak diperiksa. Para petugas penjaga pintu surga sudah sempat diganti tiga kali. Bahkan sampai Pak Petrus dan kawan-kawan bertugas kembalipun, saya tetap saja dibiarkan sendiri. Ternyata keputusan bukan di tangan para petugas kroco itu.

Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena nama saya memang tidak terdaftar dalam buku besar yang satu-satunya itu. Rupa-rupanya memang sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, dan saya pun harus tahu diri. Saya toh tidak mungkin terus menerus berdiri di sana seperti pengemis kehilangan sandal.

Akhirnya muncullah pikiran jahat sekaligus logis saya. Konon khabarnya selain surga, ada tempat yang jauh lebih ramai dan semarak yakni neraka. Melangkahlah saya ke tempat itu. Memang benar. Disana saya menemui banyak baliho (papan reklame), lampu kerlap-kerlip (walaupun suasana terang benderang)

Pedagang beraneka ragam makanan, pedagang-pedagang yang menjalankan obat perangsang, obat bius, bahkan ada juga yang menjual racun, bar-bar dan diskotik buka 25 jam sehari. Ramai dan meriah sekali suasananya.

Pintu gerbang neraka juga terlihat sangat berbeda kalau dibandingkan pintu gerbang surga. Di gerbang neraka suasananya penuh dengan penjagaan bersenjata tajam maupun tumpul. Wajah-wajah penjaganya lebih murah meriah.

Setelah melewati beberapa godaan yang menggairahkan, akhirnya saya berhasil juga ikut antri. Suasana di pintu neraka jauh lebih hidup dari pada di pintu surga. Di neraka kita harus antri, tapi anehnya tertib juga. Yang ikut antri ternyata sangat heterogen, dari segala strata ekonomi, dari segala umur, segala bangsa, ras, suku bahkan agama ada disana. Wajah-wajah mereka seperti hendak pergi ke pesta.

Entah tenaga apa yang mendorong saya untuk berani ikut antri di sana. Satu persatu peserta antrian diperiksa dan dipersilahkan masuk ke neraka yang konon suasananya sangat indah dan meriah. Tapi penuh kontradiksi dan pertentangan bathin. Konon, di neraka, segala sesuatu tersedia. Bahkan ada toko serba ada yang menyediakan barang-barang kebutuhan pokok maupun tidak pokok. Tapi sayang, kalu kita ingin berbelanja, ternyata kita tidak punya uang, kalau kita ingin makan, kita tidak mungkin bisa makan, karena mulut kita akan secara tiba-tiba otomatis terkunci.

Kalau kita ingin udara sejuk, udara langsung jadi panas. Tapi kalau kita ingin udara panas, maka secara otomatis juga kita akan diberi udara dingin. Kalau kita ingin tidur, kita akan disuruh bangun. Kalau kita ingin bangun, kita malah akan segera disuruh tidur. Kalau kita ingin dipijat, kita malah akan segera disuruh memijat.

Pokoknya, di neraka itu tidak aka nada ketenangan, terutama kalau kita memang ingin ketenangan, sebaliknya kalau kita ingin terjadi kekacauan suasana malah bisa tiba-tiba jadi tenang. Wah, membingungkan toh?. Memang di neraka kita akan selalu bingung, terutama kalau kita sedang tidak ingin bingung. Jadi bisa anda bayangkan, betapa menderitanya orang-orang yang tidak ingin menderita di neraka jahanam itu he..he..he.

Dan konon kalau kita sudah terlanjur masuk di sana berarti untuk seterusnyalah kita disana, itulah yang disebut alam baka, dimana ada awal, tapi tidak ada akhir.

“Lho, kamu koq ikut ngantri disini, padahal kamu tidak punya tanda-tanda PMN (Penanaman Modal Neraka) yang cukup!,” kata salah satu penjaga neraka.

Ternyata untuk bisa masuk neraka harus ada tanda coretan hitam di dahi sebelah kanan. Setelah saya perhatikan, ternyata teman-teman peserta antri yang lain memang semuanya memiliki tanda coretan hitam di dahi sebelah kanan mereka.

Pantas saja sejak tadi, cewek Rusia cakep dan sexy di depan saya menunjuk-nunjuk ke arah kepala saya. Tapi khan bukan salah saya kalau saya tidak mengerti bahasa Rusia.

Garing hanya
membantu
orang-orang
miskin yang perlu
pantas dan
mau dibantu.

“Mungkin coretannya hilang. Lagi pula saya khan tidak pernah diberitahu kalau harus pakai tanda coretan segala,” kataku sambil berusaha menggaruk-garuk dahi kananku agar kelihatan seperti ada coretan.

“Saya sudah ke surga, tapi oleh para penjaga pintu surga, katanya saya tidak boleh ikut masuk disana,” tambahku berusaha berdalih.

“Lha..iya. Tapi bukan berarti kalau ditolak disana lalu Anda bisa seenaknya ke sini he..he..he. Untuk masuk neraka ini kamu harus punya konduite yang benar-benar jelek. Paham!,” bentak panjaga tadi. Penjelasan yang tegas itu secara otomatis membuat saya jadi makin bingung dan minder.

“Di pintu surga saya ditolak karena tidak punya cukup tanda-tanda kebaikan dan sekarang disini saya malah ditolak lagi justru karena tidak punya tanda-tanda kejahatan. Yang bener ini yang mana sih?, “ kata saya setengah berteriak.

“Nggak, nggak bisa! apa lagi kalau dilihat dari coretan-coretan di dahi kirimu, kelihatan sekali bahwa selama hidup didunia kam sudah terlalu banyak berusaha untuk sadar dan bertobat, bahkan dengan filosofi atau gerakan moralmu, kamu sudah terlalu banyak menyesatkan orang-orang yang seharusnya bisa jadi anggota neraka malah berbalik menjadi pendukung Tuhan. Kamu tidak bisa masuk disini. Namamu tidak terdaftar disini. Namamu Joseph Joger, khan?,” sergah penjaga neraka berbaju abu-abu itu semakin marah sambil memukul-mukul buku tebal yang tampaknya seperti buku register juga. Tidak itu saja. Penjaga tadi juga memaki-maki saya dengan umpatan-umpatan “sok pendeta, sok moralis, sok jago, sok soksial, sekarang enak-enak mau ikut masuk neraka, nonses!”.

Disaat itu saya benar-benar merasa sangat terpojok, bersalah dan menyesal telah melakukan kegiatan-kegiatan social yang saya salurkan melalui gerakan moral GARING yang ternyata sama sekali tidak ada manfaatnya, baik untuk masuk surga, apalagi untuk masuk neraka. Astaga!

Para pengantri yang lain mulai berteriak-teriak tidak sabar. Seorang

SESUATU YG BERBAU PORNO
BELUM TENTU SELALU HARUS
PORNO, KARENA SESUATU YG
BERBAU KAMBING juga TIDAK
SELALU HARUS KHAAMBING!

Jerman di belakang saya malah memaki-maki saya dalam bahasa Jerman, “Hey, Scheisz Auslander, schnell raus!” (Hey, orang asing tahi, ayo cepat keluar!).

Si Jerman itu pasti berfikir saya tidak mengerti umpatannya, tapi dengan tersenyum saya balas umpatannya dalam bahasa Indonesia.

“Eh, bule monyong jangan banyak bacot lu!”.

“Tolong, Pak!,” pintaku kembali memelas sambil memendam rasa jengkel pada si petugas jaga pintu neraka yang bloon itu.

“Nggak bisa.. nggak ada tolong menolong disini. Di sini kami juga sudah mengadakan reformasi besar-besaran. Disini kita tidak mengenal korupsi, kolusi, dan nepotisme lagi,” semprotnya ketika melihat saya mulai mencoba mengambil sesuatu dari kantong saya he..he..he.

Karena harga diri dan juga karena diteriaki oleh teman-teman peserta antri dalam berbagai bahasa yang (untung) tidak saya mengerti. Akhirnya saya pun harus tahu diri.

Apa gunanya buang-buang waktu berdebat atau minta tolong kepada para petugas kroco yang hanya menjalankan tugas itu. Akhirnya sayapun terpaksa lontang-lantung kesana kemari tanpa tujuan. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah pohon yang sebenarnya bukan pohon, namun saya menganggapnya pohon.

Lalu saya pun bersimpuh dibawah “pohon” itu dan saya pun mulai bermeditasi, berdoa sekuat daya dan karsa meminta (mungkin juga sedikit agak menuntut) kepada Tuhan Yang Maha Baik dan Maha Kuasa agar Beliau mengeizinkan saya untuk kembali ke dunia fana dimana atas izin Beliau juga saya akan minta kesaktian dan kekuatan sehingga saya punya kemampuan untuk menjewer, menempeleng bahkan menendang orang-orang yang punya niat jahat. Saya juga ingin jadi sejenis polisi yang tidak kasat mata yang akan menindak orang-orang munafik, setengah matang dan ragu-ragu seperti saya ini he..he,,he,, Amin!.

Kisah petualangan ini hanyalah hasil meditasi Mr. Joger yang tidak perlu Anda tanggapi secara serius, tapi kalau bisa ambillah hikmahnya. Terima kasih!

Bonus Renungan Dari Mr. Joger :

Orang-orang yang benar-benar jahat sebenarnya sangat sedikit sekali jumlahnya. Orang-orang yang benar-benar baik juga sangat sedikit jumlahnya. Yang banyak itu khan orang-orang munafik, ragu-ragu dan pengecut seperti Mr. Joger ini he..he..he. Tidak ada manusia sempurna, tapi janganlah suka mengulang-ulang apalagi bangga terhadap kesalahan dan kelemahan diri kita. Okay!

Kalau BUKAN KuCinG
untuk apa malu-malu
KuCinG!