Renungan

Renungan Joger, Senin, 18 November 2019

Renungan Joger, Senin, 18 November 2019.

Kalau bisa, janganlah kembali terlalu percaya dan/atau apalagi terlalu yakin bahwa untuk menjadi abdi negara maupun untuk menjadi pembela negara, kita semua harus jadi tentara dan/atau harus pakai seragam militer. Marilah kita bela dan/atau jaga kebaikan niat, kejujuran sikap, kesetaraan hidup, keadilan perlakuan, kesejahteraan sosial, dan/atau kemakmuran yang benar-benar (tidak seolah-olah saja) adil dan beradab di NKRI kita yang konon sama-sama sangat kita cintai ini secara wajar. Terima kasih!

Renungan Joger, Minggu, 17 November 2019

Renungan Joger, Minggu, 17 November 2019.

Jangankan benar-benar (tidak seolah-olah saja) membangun banyak lapangan kerja yang menyejahterakan banyak sesama anak bangsa, bahkan benar-benar membangun lapangan kerja yang menyejahterakan bagi diri kita sendiri saja (seharusnya) sudah layak dihargai sebagai abdi negara, pejuang bangsa, dan/atau bahkan pahlawan kesejahteraan. Ayo, marilah kita ramai-ramai jadi diri kita sendiri yang benar-benar mau dan mampu bekerja dan berkarya secara benar-benar baik, jujur, rajin, kreatif, adil, produktif, dan/atau merdeka! Terima kasih!

Renungan Joger, Sabtu, 16 November 2019

Renungan Joger, Sabtu, 16 November 2019.

Tiga alasan di antara beberapa alasan mengapa saya (Mr. Joger) dulu (1978) menolak “paksaan simpatik dari paman istri saya” untuk jadi pegawai negeri, yaitu: 1). Karena tidak berani berpenghasilan kecil. 2). Karena merasa tidak mampu dan/atau tidak mungkin bisa mantap bekerja di dalam kantor di bawah aturan dan pimpinan orang lain. 3). Karena merasa diri lebih mantap bekerja/berjuang sebagai pengusaha yang benar-benar baik, jujur, adil, ramah, rajin, kreatif, produktif, berani, bermanfaat, merdeka, dan bayar pajak.

Renungan Joger, Jumat, 15 November 2019

Renungan Joger, Jumat, 15 November 2019.

Industri pariwisata di NKRI ini sedapat mungkin harus benar-benar (tidak hanya seolah-olah) baik, jujur, adil, beradab, ramah, terbuka, masuk akal (reasonable) harganya, menyenangkan, menyehatkan, dan juga membahagiakan semua wisatawan maupun wisatawati dari segala usia, segala selera, segala keyakinan, segala kebutuhan yang wajar, dan juga dari semua agama yang benar-benar agama dan yang benar-benar cinta damai. Oke? Terima kasih!

Renungan Joger, Kamis, 14 November 2019

Renungan Joger, Kamis, 14 November 2019.

Salah satu (bukan satu-satunya) gabungan sifat dan sikap positif yang bisa sangat baik dan bermanfaat bagi NKRI kita yang punya lebih dari 265 juta rakyat yg sangat heterogen atau sangat beraneka-ragam ini, adalah sifat dan sikap tenggangrasa yang benar-benar (tidak seolah-olah saja) wajar, baik, jujur, adil, beradab, optimal, proporsional, dan bertanggungjawab, dan/atau benar-benar merdeka. Kata kuncinya adalah merdeka.

Renungan Joger, Rabu, 13 November 2019

Renungan Joger, Rabu, 13 November 2019.

Kalau bisa, hati-hati dan bijaksana lah menentukan kehalalan, terutama di NKRI kita yang heterogen ini, karena banyak hal positif yang baik, bermanfaat, dan wajar bagi pihak tertentu malah diharamkan oleh pihak tertentu lain. Contohnya makanan, minuman, cara berpakaian, maupun kegiatan-kegiatan yang bagi pihak tertentu halal, baik, dan nikmat, malah dijauhi dan diharamkan oleh pihak tertentu lainnya. Biarkan Bali tetap Bali alias tetap baik dan terkendali secara wajar, optimal dan tradisional!

Renungan Joger, Selasa, 12 November 2019

Renungan Joger, Selasa, 12 November 2019.

Ketika para politisi sudah ramai-ramai berebut kekuasaan, maka saat itu jugalah mereka tidak mungkin lagi mau, mampu, dan sempat menjadi diri mereka yang benar-benar religius, karena mereka pun sebenarnya hanya sedang mencatut atau memanfaatkan nama agama dan Nama Tuhan kita bersama Yang Mahaesa, Mahabaik, Mahabijaksana, Mahapengasih, Mahapemaaf, dan Mahapengamat. Jangan takut, jangan putus asa, tapi tetaplah rajin berusaha melakukan berbagai kebaikan dan kebajikan!

Renungan Joger, Senin, 11 November 2019

Renungan Joger, Senin, 11 November 2019.

Kalau memang masih punya rasa malu yang wajar, sebaiknyalah kita tidak melakukan hal-hal yang memalukan! Kalau memang benar-benar masih punya rasa takut yang wajar, sebaiknyalah kita tidak menakut-nakuti. Dan kalau memang masih benar-benar ingin tetap merdeka secara wajar, janganlah suka menindas maupun menjajah siapa pun juga, apalagi sesama anak bangsa Indonesia yang baik-baik dan jujur-jujur secara korup, keji, kejam, biadab, licik, dan/atau kurang ajar. Oke?

Renungan Joger, Minggu, 10 November 2019

Renungan Joger, Minggu, 10 November 2019.
Mungkin Perlu dikaji ulang secara lebih serius lagi, apakah kita atau bangsa Indonesia ini memang tidak suka dan tidak butuh penjahat? Kalau memang benar-benar tidak suka dan tidak butuh penjahat, seharusnyalah kita semua tidak melakukan kejahatan seperti korupsi, kolusi, nepotisme, pungli, mencuri, merampok, persekusi, maupun premanisme. dan kalau ada yang melakukannya harus ramai-ramai kita tangkap, adili, dan hukum seberat-beratnya bukan se-ringan-ringannya, bukan malah dibebaskan, dan/atau apalagi sampai diharga.

Renungan Joger, Jumat, 08 November 2019

Renungan Joger, Jumat, 08 November 2019.

Alangkah indahnya hidup di bumi NKRI ini, kalau saja teman-teman kita yang benar-benar bekerja keras dan bekerja cerdas di lapangan untuk kebaikan, kebersihan, maupun kelestarian lingkungan hidup kita bersama dibayar lebih banyak daripada atasan mereka yang seolah-olah saja sibuk bekerja sambil baca koran di ruang kantor mereka yang ber-AC. Maaf, ini hanyalah sekadar angan-angan saya (Mr. Joger) sebagai salah satu (bukan satu-satunya) pencinta Bali yang benar-benar mencintai Bali. Merdeka!

Renungan Joger, Kamis, 07 November 2019

Renungan Joger, Kamis, 07 November 2019.

Sebagai salah satu (bukan satu-satunya) rakyat/warga/stakeholder yang benar-benar (tidak seolah-olah saja) mencintai Bali, perkenankanlah saya (Mr. Joger) menyarankan agar para pemangku kekuasaan Bali bersedia belajar pengelolaan sampah dari mereka yang di Surabaya di bawah pimpinan Ibu Risma. Maaf, ini bukanlah kritik, tapi sekadar saran. Terima kasih!

Renungan Joger, Rabu, 06 November 2019

Renungan Joger, Rabu, 06 November 2019.

Mungkin karena memang benar-benar baik, jujur, inovatif, kreatif, produktif, dan bertanggungjawab lah saya (Mr. Joger) dulu di tahun 1978 menolak dipaksa jadi PNS, dan/tapi malah tetap bersikukuh untuk jadi pengusaha yang BAJU2RA6BERTETADI alias BA-ik, JU-jur, RA-mah, RA-jin, BER-tanggungjawab, BER-imajinasi, BER-inisiatif, BER-ani, BER-syukur, BER-manfaat, TE-kun, dan TA-hu DI-ri yang senantiasa berdoa, berusaha, berkarya kreatif, bekerja keras, berbagi rezeki, bayar pajak, maupun bekerja bakti secara wajar atau secara optimal atau secara merdeka atau secara pancasilais. Terima kasih!

Renungan Joger, Selasa, 05 November 2019

Renungan Joger, Selasa, 05 November 2019.

Mungkin karena tidak merasa diri saya cukup pintar dan juga tidak merasa mampu untuk jadi pegawai negeri yang patuh lah saya (dulu di tahun 1978) menolak paksaan paman istri saya yang waktu itu punya kekuasaan untuk memaksa penguasa lainnya mengangkat saya untuk jadi pegawai negeri, dan/tapi saya tetap bersikukuh untuk jadi pengusaha biasa yang benar-benar baik, jujur, kreatif, produktif, dan bertanggungjawab minimal bagi diri saya, istri saya, anak-anak kandung saya, dan para anak buah saya atau orang-orang dewasa yang bersedia bergabung dalam wadah keluarga Joger dengan filosofi dan NSM GARING.

Renungan Joger, Senin, 04 November 2019

Renungan Joger, Senin, 04 November 2019.

Aduh, ternyata putra saya (Armand Setiawan) amat sangat senang pada olahraga karate. Dan saking senangnya, sampai-sampai sebagian besar (88%) modal kesuksesan atau modal kebahagiaan hidupnya berupa iktikad, ilmu-ilmu, ruang, ide-ide, dana, dirinya, maupun waktunya didedikasikan untuk kemajuan karate di Balinesia (Bali yang tak terpisahkan dari Indonesia, Asean, Asia, maupun dunia). Semoga saja tidak banyak yang malah salah paham dan berpikir negatif terhadap dia maupun keluarga Joger. OK? Terima kasih!

Renungan Joger, Minggu, 03 November 2019

Renungan Joger, Minggu, 03 November 2019

Salah satu (bukan satu2-nya) kebiasaan baik atau tradisi positif atau adat istiadat yang benar-benar baik dan bermanfaat bagi keutuhan, perdamaian, produktivitas, kesejahteraan, dan kebahagiaan seluruh rakyat, adalah bagaimana kita semua (para stakeholder) benar-benar mau, mampu, ikhlas, berani, dan mantap mengendalikan hawa nafsu keserakahan kita sendiri masing-masing supaya tetap pada level yang benar-benar wajar atau optimal atau adil dan beradab atau tanpa sampai mentang-mentang maupun mentung-mentung. Terima kasih!

Renungan Joger, Sabtu, 02 November 2019

Renungan Joger, Sabtu, 02 November 2019.
Kalau memang ingin hidup sederhana dan bahagia, marilah kita berdoa dan berusaha agar Tuhan berkenan mendukung kita untuk hidup wajar sebagai diri kita sendiri saja, dan janganlah paksa orang/pihak lain untuk hidup dengan cara hidup, keyakinan, agama, tradisi, maupun selera kita. Marilah kita merdekakan diri kita tanpa menjajah maupun memaksa siapa pun. Marilah kita saling menghormati & saling mencintai!

Renungan Joger, Jumat, 01 November 2019

Renungan Joger, Jumat, 01 November 2019.

Kalau memang masih belum benar-benar punya iktikad atau niat baik yang benar-benar baik, lebih baik, maupun terbaik, dan juga belum benar-benar punya sumber nafkah halal dan legal yang lebih dari sekadar cukup untuk hidup wajar atau optimal sendiri saja, janganlah sok foya-foya maupun merokok dan juga janganlah sok omong besar tentang cinta sejati (cukup cinta monyet saja).

Renungan Joger, Kamis, 31 Oktober 2019

Renungan Joger, Kamis, 31 Oktober 2019.

Kalau memang ingin mendirikan negara agama (berdasarkan satu agama tertentu saja), silakan, tapi tentu saja tidak di bumi nusantara di mana Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sejak dahulu kala sudah dan akan tetap punya rakyat atau warga atau stakeholder yang heterogen (majemuk/jamak/plural) secara asal-usul, suku, agama, keyakinan, maupun selera. Marilah kita hidup bersama secara benar-benar baik, jujur, adil, beradab, dan bertanggungjawab. Terima kasih!

Renungan Joger, Rabu, 30 Oktober 2019

Renungan Joger, Rabu, 30 Oktober 2019.

Asal-usul, suku, bentuk, agama, keyakinan, maupun selera kita boleh saja berbeda-beda, tapi kalau memang tetap ingin bersatu dalam sebuah wadah yang sama-sama kita sepakati, yakini, dan sebut sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sebaiknyalah kita tetap percaya bahwa Tuhan kita bersama Yang Mahaesa, Mahabaik, dan Mahabijaksana pasti mau, mampu, dan berkenan memahami bahasa Indonesia. Oke??

Renungan Joger, Selasa, 29 Oktober 2019

Renungan Joger, Selasa, 29 Oktober 2019.

Paling repot punya teman maupun temin yang hanya merasa senang, kalau sudah bikin susah orang lain. Paling susah punya pemimpin yang baru mau memimpin, kalau sudah diberi uang ekstra. Paling repot punya guru yang baru mau mengajar hanya kalau muridnya pintar. Paling sedih punya pacar yang baru mau senyum, hanya jika sudah diberi hadiah mahal saja.

Renungan Joger, Senin, 28 Oktober 2019

Renungan Joger, Senin, 28 Oktober 2019.

Menurut hemat saya (Mr. Joger), NKRI kita yang sangat indah, luas, subur, kaya, dan berdasarkan Pancasila ini hanya butuh lebih banyak pencinta yang benar-benar baik, jujur, rajin, bertanggung-jawab, berimajinasi, berinisiatif, berani, bersyukur, bermanfaat, tekun, dan tahu diri, tidak butuh tukang pidato yang korup, malas, dan selalu mau menang sendiri saja. Oke? Terima kasih!

Renungan Joger, Minggu, 27 Oktober 2019

Renungan Joger, Minggu, 27 Oktober 2019.
Jangankan Jadi menteri, bahkan jadi rakyat jelata pun kita harus tahu bahwa kita tidak boleh bikin susah orang, dalam arti tidak boleh secara sadar dan sengaja bikin susah orang lain dan/tapi juga jangan sampai bikin susah diri kita sendiri yg walaupun bagaimana, kan juga orang, bukan sekadar orang-orangan, bukan orang-aring, dan juga bukan orong-orong! selamat bekerja dan berkarya membangun negeri tanpa korupsi, kolusi, nepotisme, maupu terorisme. Oke?

Renungan Joger, Sabtu, 26 Oktober 2019

Renungan Joger, Sabtu, 26 Oktober 2019.

Para pembantu presiden (menteri) terbaik sudah dipilih oleh presiden kita (Bapak Jokowi) yang sudah kita pilih secara demokratis maupun meritokratis. Untuk selanjutnya marilah kita minimal tidak ganggu mereka untuk berkarya, bekerja nyata, bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja sama, maupun bekerja bakti membangun NKRI sambil menjaga kebersihan lingkungan hidup kita bersama dengan otak, hati, tangan, alat-alat, maupun kantong yang benar-benar bersih. Selamat berkarya dan bekerja!

Renungan Joger, Jumat, 25 Oktober 2019

Renungan Joger, Jumat, 25 Oktober 2019.

Paling repot punya teman maupun temin yang tidak merasa bersalah bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Paling jengkel punya teman maupun temin yang merasa dirinya hebat hanya setelah meremehkan orang lain. Paling mengerikan punya wakil rakyat yang malah hanya rajin dan pandai mengurus kepentingan diri/partainya sendiri saja. Aduh!

Renungan Joger, Kamis, 24 Oktober 2019

Renungan Joger, Kamis, 24 Oktober 2019.

Seharusnya pihak-pihak yang sudah benar-benar kaya (punya uang dan harta lebih dari cukup) sajalah yang berhak (tidak wajib) membantu secara wajar pihak-pihak yang masih benar-benar pantas, perlu, dan mau menerima bantuan yang wajar secara wajar (tidak sampai kurang ajar, tidak sampai memaksa, dan juga tidak sampai mengancam dan melakukan tindakan yang tidak baik dan destruktif). Menurut hemat saya (Mr. Joger), hanya perampok atau penjahat saja lah yang biasanya merasa berhak mengancam untuk memperoleh sumbangan.

Renungan Joger, Rabu, 23 Oktober 2019

Renungan Joger, Rabu, 23 Oktober 2019.

Salah satu (bukan satu-satunya) teladan yang sangat pantas dan perlu kita tiru dari perjuangan Mahatma Gandhi, adalah cara beliau memperjuangkan kemerdekaan, dengan cara Ahimsa (baik, jujur, sederhana, dan tanpa kekerasan) yang dilengkapi dengan cara Swadesi yang secara sederhana berusaha mandiri (memenuhi kebutuhan sendiri yang wajar secara wajar). Jangan tiru mentah semua ajaran Mahatma Gandhi, tapi juga jangan tolak mentah-mentah semuanya. Jangan takut, tapi tetaplah cerdas dan waspada!

Renungan Joger, Selasa, 22 Oktober 2019

Renungan Joger, Selasa, 22 Oktober 2019.

Menurut hemat saya (Mr/Pak Joger yang belum dan tidak akan pernah benar-benar mau bersikap terlalu hemat maupun terlalu tidak hemat ini) hanya orang-orang/pihak-pihak yang memang sudah benar-benar kaya (sudah merasa benar-benar punya kelebihan rezeki) sajalah yang layak atau pantas atau berhak (tidak wajib) menyisihkan sebagian (tidak semua) dari kelebihan rezekinya untuk diberikan atau disumbangkan secara wajar kepada orang-orang/pihak-pihak yang diyakini sebagai memang masih benar-benar pantas, perlu, dan mau menerima bantuan yang wajar secara benar-benar wajar (tidak kurang ajar/tidak menuntut dan juga tidak sampai mengancam).

Renungan Joger, Senin, 21 Oktober 2019

Renungan Joger, Senin, 21 Oktober 2019.

Dalam filosofi (bukan ajaran) maupun dalam kegiatan PMA (Penanaman Modal Akhirat) kami yang sejak 1981 lakukan secara benar-benar wajar dalam NSM (Niat Swadaya Masyarakat) GARING, kami (para pendukung setianya) hanya membantu orang-orang/pihak yang kami yakini sebagai memang benar-benar masih pantas, perlu, dan mau menerima bantuan kami yang wajar secara wajar itulah yang adil dan beradab.

Renungan Joger, Sabtu, 19 Oktober 2019

Renungan Joger, Sabtu, 19 Oktober 2019.

Walaupun bukan satu-satunya, tapi Ibu Tri Rismaharini, wali kota Surabaya dua periode, adalah salah satu “penguasa” yang sangat amat pantas dan perlu diteladani oleh para “penguasa” di NKRI kita tercinta ini. Selamat berkiprah secara baik, jujur, dan rajin bagi Ibu Risma. Dan Joger akan tetap mendukung pemerintah NKRI dari Bali dengan tetap menciptakan dan merawat lapangan pekerjaan untuk mencari nafkah secara optimal bagi sekitar 3 ribuan orang dan bayar pajak secara wajar/optimal. Oke? Terima kasih!

Renungan Joger, Jumat, 18 Oktober 2019

Renungan Joger, Jumat, 18 Oktober 2019.

Kalau saja kita mau jujur mengingat sejarah para leluhur kita, semua dari mereka pasti banyak yang sudah (bahkan tidak hanya sekali) pindah agama atau mengganti cara-cara mereka untuk mewujudkan rasa hormat dan cinta mereka kepada Tuhan Yang Mahaesa, Mahabaik, dan Mahabijaksana. Makanya, jangan heran/gusar kalau sekarangpun banyak anak-anak maupun generasi penerus kita yang merasa pantas dan perlu pindah agama atau ganti cara dalam menghormati dan mencintai Tuhan Yang Mahaesa. Oke?