Interview dengan Mr. JOGER

  1. Kapan Joger mulai berdiri?
    Sebenarnya sampai saat ini pun Joger masih belum berdiri tegak. Usaha kami ini mulai dirintis sejak bulan juli 1980 bermodal dasar Rp. 500 ribu dengan sistem pemasaran door to door alias gedor-gedor rumah orang . Waktu itu anak saya masih berumur 3 bulan. Jadi waktu itu saya memang sempat jadi single fighter menangani semua persoalan relatif sendiri, karena istri saya waktu itu mempunyai kesibukan lain yang jauh lebih penting yaitu menjaga anak kami. Waktu itu saya sempat bekerja seperti orang gila. Pagi kerja, Siang kerja, Sore kerja, Malam lembur dan “Every day was Monday for us.”
    Setelah usaha kami agak jalan sedikit, barulah kami berani merekrut seorang asisten. Kemudian atas dukungan dari istri tercinta dan pihak keluarga sekitar awal tahun 1981, kami dapat bantuan pinjaman gedung atau toko milik yang terletak di Jl. Sulawesi 37 Denpasr. Nah, karena sudah pakai toko , maka usaha kami pun sudah harus menggunakan izin dagang. Untuk cari izin dagang kami harus pakai nama, dan untuk menghormati teman saya, Gerhard, yang dulu ketika kami menikah sempat menghadiahi kami modal sebesar US $20.000, maka usaha kecil-kecilan ini pun kami beri nama JOGER adalah gabungan nama saya Joseph dengan Mr. GERhard.
    Kalau toh kami diperbolehkan memilih, maka kami lebih suka memilih tanggal 19 Januari 1981 sebagai hari lahir Joger, karena kami pun menikah pada tanggal yang sama tahun 1979. Jadi setiap tahun secara ikhlas kami mewajibkan diri untuk tutup 3 hari yaitu pada tanggal-tanggal 18, 19, 20 Januari untuk sedikit lebih berfoya-foya merayakan hari ulang tahun perkawinan kami plus ulang tahun Joger sekaligus atas dasar efisiensi.
    Tetapi karena adanya tuntutan dari konsumen dan banyak pihak, termasuk dari pihak penguasa justru pada hari-hari besar dan musim libur kami harus tetap buka untuk melayani para penggemar kami yang datang dari segala penjuru angin sepoi-sepoi.
  2. Anda sering mengungkapkan bahwa usaha anda tidak “profit oriented” tapi “happiness oriented.” Apa sih maksud konsep nyeleneh tersebut?
    Koq nyeleneh? Saya rasa justru usaha yang tidak happiness orientedlah yang seharusnya kita anggap nyeleneh. Apa gunanya profit segunung kalau ternyata hidup kita tidak happy. Tapi, walaupun saya mengaku bahwa saya tidak profit oriented, itu bukan berarti bahwa saya selalu menolak profit. Justru sebaliknya saya selalu mau menerima mau profit yang halal-halal dan baik-baik saja. Kami selalu berusaha menghindari profit-profit yang tidak halal dan tidak baik karena profit yang didapat dengan cara tidak halal dan tidak baik, tidak mungkin bias membuat hidup kita happy.
    Profit memang bisa membuat hidup kita jadi kaya. Tapi orang kaya khan tidak selalu bias happy. Sebaliknya, orang yang sudah mau bersyukur atas segala yang di dapat pasti hidup bahagia dan kalau sudah hidup bahagia itu berarti kita sudah kaya.
  3. Modal awal usaha anda hanya Rp. 500.000 ribu. Apakah dengan modal sekecil itu bias bersaing dengan pengusaha-pengusaha bermodal kuat?
    Menurut hemat saya, sebuah usaha sebaiknya dimulai dari kecil-kecilan dulu, sehingga pelan-pelan bias bertumbuh menjadi besar. Janganlah memulai dari besar-besaran tapi kemudian mengkeret jadi kecil. Waktu itu tahun 1980, uang Rp. 500.000 ribu cukup besar nilainya, karena hotel kelas melati waktu itu hanya Rp. 3.500 per malam sudah termasuk makan pagi.
    Tapi waktu itu ketika untuk pertama kali berangkat ke solo, teman saya, Om Koking, sangat aktif membantu baik secara moril maupun ikut menjamin kredibilitas saya. Kalau boleh saya kata kan, sebenarnya modal utama suatu usaha adalah kejujuran keramahan, sehingga kita dipercayai semua pihak. Apa gunanya modal uang segudang kalau kita tidak di percayai orang?. Contoh nya seperti keadaan krismon seperti sekarang ini, mungkin karena ada beberapa konglomerat yang tidak jujur ngemplang, sekarng L/C kita malah tidak dipercaya. Dan ironisnya untuk bias dipercaya kita malah harus minta tolong pada pihak Singapura yang kalau ditinjau dari kekayaan alam jelas sangat miskin jika di bandingkan dengan kita di Indonesia yang luas dan subur ini.
    Tapi harus diingat, kejujuran tanpa keramahan belumlah lengkap dan sebaliknya keramahan tanpa kejujuran juga tidak akan bertahan lama. Kapital besar yang tidak dilandasi kejujuran dan keramahan sama saja dengan mobil mewah tanpa bahan bakar dan minyak pelumas.
  4. Anda tampak selalu oeria dan happy. Apakah anda pernah merasa susah atau sedih?
    Wah, ini bagus. Rupa-rupanya anda juga punya bakat untuk bahagia. Cara anda melihat sangat positif, berarti anda adalah orang yang berpikir positif. Saya juga lebih suka berpikir, berkata dan berbuat yang positif-positif saja. Apa gunanya menunjukkan wajah murung kalau kemurungan kita itu hanya akan membuat orang lain tambah murung? Apalagi seperti sekarang ini, dimana 99% rakyat Indonesia sedang susah, 0.5% rakyak kita malah saking sudah terlalu amat sangat susah, malah jadi depresi/gila, dan sisanya yang 0.5% lagi adalah orang-orang macam saya ini , yaitu orang yang berpura-pura tidak susah agar yang susah-susah tidak malah tambah susah.
    Sebenarnya kami ini adalah orang-orang yang juga susah, tapi kami merasa susah justru karena kami tidak punya kemampuan yang cukup untuk membantu mereka-mereka yang jauh lebih susah-susah. Jadi untuk menjaga keseimbangan jiwa, kami merasa berhak untuk selalu berpenampilan ceria dan happy. Don’t worry be happy! Kalau sedang merasa susah ingat lah orang-orang yang jauh lebih susah. Tapi kalau sedang senang, ingatlah untuk membantu orang-orang yang belum bisa ikut senang alias masih susah. Kalau tidak punya uang atau sembako, cukup berikanlah getaran niat baaik kita melalui senyuman!
  5. Banyak orang curiga bahwa berani ngomong “seenaknya” karena deposito anda menumpuk di Bank?
    Rupa-rupanya “kecurigaan” mereka bisa benar, tapi juga bisa kurang benar. Sebuah kehidupan in bisa terasa indah bukanlah hanya karena PMDN yang cukup , tapi juga harus di imbangi dengan PMA yang cukup. Saya memang selalu berusah untuk ngomong secara enak, tapi saya belum pernah punya ke inginan berbicara seenaknya, he.. he.. he.
    Oh ya hampir lupa. Yang saya maksud dengan PMDN adalah Penanaman Modal Dunia, dan PMA adalah Penanaman Modal Akhirat. Dan kalau anda memang benar-benar curiga bahwa hidup saya ini bahagia lahir batin seperti yang tercemin dalam sikap sehari-hari, berati semua itu adalah berkat tekad saya untuk selalu menyeimbangkan antara tumpukan deposito saya di Bank-Bank dunia sambil tak lupa setiap hari menabung di Bank-Bank akhirat.

    SeTeLAH DISELIDIKI SECARA tidak
    SeKSaMa, TerNYATA JOGER ADaLah
    PABRIK Kata-Kata Ketiga di DUNIA
    (Bukan yang PertaMa) KARENA
    YANG PERTAMA MeMaNG BeLuM
    PeRNah aDa DaN YanG KeDuaPUN
    MeMaNg Tidak Ada. Kecuali kalau
    SuDaH aDa YanG MuLai MenGada-aDa!

  6. Apa kriteria yang harus dimiliki untuk menjadi karyawan, eh.. eh.. eh.. anak-anak asuh Joger?
    Biasanya saya memasang pengumuman di koran, dimana iklan tersebut bunyinya sebagai berikut: “Dicari beberapa tenaga wanita diutamakan yang tidak terlalu cantik” . Anda atau sebabnya?
    Alasannya, pertama: Jika orang terlalu cantik biasanya orang ini akan agak terlalu bangga dengan kecantikannya dan dia akan lebih banyak bergaya saja. Kedua: Kalau karyawati saya terlalu cantik maka tamu-tamu yang datang akan betah ngobrol saja dengan dia. Ketiga: jika dia terlalu cantik maka karyawati ini masa kerjanya tidak akan lama karena tiga bulan saja pasti sudah dilamar orang. Dan alas an ke Empat: adalah alasan yang paling berbahaya, sebab karyawati Joger terlalu cantik, dikawatirkan, saya yang beriman tipis ini akan tertarik. Ha..ha..ha.
    Dan untuk jabatan sopir, akan saya tanyakan apakah dia sudah tabrakan atau tidak. Sebab saya lebih cenderung mencari sopir yang sudah pernah tabrakan serius. Karena biasanya sopir-sopir yang sudah pernah mengalami tabrakan yang serius pasti sudah kapok dan mempunyai pertimbangan jauh lebih matang. Sopir-sopir kami ini adalah sopir-sopir yang sudah beberapa kali tabrakan. Jadi kami harap mereka benar-benar sudah kapok dan tidak menabrakkan mobil-mobil kami.

    MAAF, Kami tidak sedia perkara!
    Bagi yang suka cari perkara silahkan
    cari saja tempat lain!

  7. Apa saja bahan pembicaraan dalam setiap rapat dengan karyawan, eh..eh.. anak-anak Joger?
    Hampir setiap pagi kami selalu berusaha menyediakan waktu untuk berdialog atau sharing, tukar pikiran membahas hal-hal yang perlu dan pantas kita bahas. Misalnya membahas topik yang sedang hangat di Koran-koran atau membicarakan tentang filosofi GARING.
  8. Anda tampaknya sangat relegius, kalau boleh tahu apa sebenarnya agama anda?
    Banyak orang Budha yang menyangka saya Budha dan beberapa kali mengundang saya sebagai saudara seiman. Banyak pura orang islam yang menyangka saya orang islam. Mungkin karena saya sering ikut membantu pembangunan tempat ibadah dan sering menyisihkan sebagian dari rezeki saya dan menganggapnya sebagai hak orang miskin. Banyak orang Protestan juga menganggap saya Protestan. Mungkin karena saya suka protes-protes he..he..he..
    Banyak orang Hindu juga menyangka saya Hindu. Itu mungkin karena saya dan group GARING sering kerja bakti bersih-bersih dan membantu perbaikan bangunan Pura-pura yang terkena bencana alam. Bahkan waktu Pura Besakih diisukan dijadikan cagar budaya, saya ikut bicara protes keras. Tapi anehnya banyak orang katolik justru menyangka saya bukan Katolik.
  9. Lho, Kok Begitu?
    Mungkin karena saya Katolik tapi tidak terlalu Katolik he..he..he..
  10. Seberapa besar pengaruh agama Katolik dalam karya-karya Anda?
    Dalam prakteknya, karya-karya saya tidak hanya dipengaruhi oleh satu agama lagi, tapi justru sudah dipengaruhi oleh nilai-nilai religiusitas yang ada dan bisa diterima oleh semua umat beragama yang ada di muka bumi ini. Dalam berkaya, saya berusaha menempatkan diri saya bukan hanya sebagai umat beragama saja, tetapi justru sebagai umat yang ber-Tuhan.
    Saya lebih berusaha untuk menjadi hamba Tuhan daripada menjadi hamba agama. Jadi kalau sekiranya anda tidak keberatan, mungkin saya lebih suka menyatakan bahwa karya-karya saya, 99% saya biarkan untuk dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat universal yang saya gali dari hati nurani saya, yang tentunya tidak akan banyak berbeda dengan hati nurani anda maupun orang lain, tidak peduli apakah ia beragama Katolik, Islam, Protestan, Budha atau Hindu maupun kebatinan yang berfikir positiif.
  11. Lalu apa kira-kira kunci kreatifitas Anda dalam berkarya?
    Wah, ini pertanyaan yang cukup aneh. Kreatifitas koq malah pakai kunci segala? Dalam berkreatifitas justru kita harus terbuka, bukanya tertutup, apalagi terkunci. Kalau memang sudah terbuka, mengapa harus punya kunci!. Dulu mungkin saya pernah punya kunci karena masih takut untuk bebas dan merdeka. Tetapi sekarng kuncinya saya sudah buang jauh-jauh dan mungkin sudah diambil orang lain he..he..he..
  12. apakah Anda pernah jenuh dan kehabisan ide?
    Saya berhak bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena sampai saat ini saya masih belum pernah kehabisan ide. Kalau mau bicara soal ide, marilah kita bicara soal lady first memang sangat dijunjung tinggi terutama di Negara-negara berbudaya barat. Tapi di Indonesia, laki-laki selalu lebih dahulu daripada wanita. Kalau kurang yakin, bukalah kamus bahasa Indonesia dan carilah kata laki-laki yang dimulai dengan huruf ‘L’. Dan huruf ‘L’ pasti lebih dahulu daripada huruf ‘W’ yang memulai kata ‘Wanita’.
    Dan jika Anda memerlukan ide, tidak usah ragu-ragu. Bukalah kamus, dan carilah halaman yang memuat kata yang dimulai dengan huruf ‘I’, dan saya jamin ide akan anda dapatkan dengan mudah. Soal merasa jenuh, tentu saja saya kadang-kadang merasa berhak untuk merasa jenuh. Tapi saya tidak pernah meras wajib untuk jenuh. Dan dengan pengaturan pernafasan yang lebih terkonsentrasi dan lebih sadar, biasanya rasa jenuh akan segera berubah menjadi semangat dan rasa syukur.
  13. Ngomong-ngomong, apa sih tujuan hidup anda?
    Sebenarnya tujuan hidup saya sama saja dengan tujuan hidup Anda sebagai manusia, yakni Kebahagiaan.
  14. Apakah jawaban Anda itu tidak terlalu abstrak dan terlalu umum?
    Mungkin saja terlalu abstrak atau terlalu umum untuk anda, tapi bagi saya jelas sekali. Kebahagiaan adalah tujuan hidup saya dan saya yakin orann lain juga mempunyai tujuan hidup yang sama, karena tak ada tujuan yang lebih baik daripada kebahagiaan. Kalau toh ada, itu pasti mengada-ada.
  15. Tapi baik itu Khan relatif?
    Memang banyak orang mengatakan bahwa kebaikan itu relatif. Baik untuk orang Amerika belum tentu baik untuk orang Ameriki, baiknya Anda belum tentu baik untuk Andi. Kebaikan memang bisa sangat relatif terutama jika kita berhenti pada tahap relatif. Tapi dalam GARING saya sudah sempat mencapai suatu kesimpulan bahwa dalam hidup ini ada yang disebut kebaikan optimal, yaitu kebaikan yang standar atau yang juga bisa disebut sebagai kebaikan minimal yang manusiawi, yang wajib kita jaga selama kita ingin bahagia, yaitu janganlah suka bikin susah orang. Siapapun Anda , dari manapun asal-usul anda, apa pun profesi anda, apapun Agama anda, janganlah sampai bikin susah orang lain, dan janganlah sampai menyusahkan diri sendiri. Sebab diri kita sendiri khan juga orang, bukan orong-orong.
  16. Banyak orang mengatakan bahwa hidup ini tidak mungkin bahagia tanpa uang. Apa pendapat Anda?
    Pendapat itu memang mengandung kebenaran, tapi juga mengandung kesesatan. Hidup ini memang tidak mungkin bisa bahagia kalau tidak ada uang yang cukup. Tapi dalam GARING saya sudah mencapai suatu kesimpulan bahwa uang itu memang penting, tapi bukan yang terpenting. Tapi kalau dikatakan bukan terpenting, sering kali terasa sangat amat penting (?). Sebenarnya uang itu khan sama saja seperti benda-benda lain.
    Mereka selalu punya tiga aspek. Yakni, pertama aspek positif, kedua aspek negatif dan ketiga adalah aspek netral. Uang bisa jadi positif dan bermanfaat untuk kebahagiaan hidup kita, tapi juga bisa menghancurkan hidup kita. Dan kalau tidak di apa-apakan atau hanya ditaruh dibawah bantal juga tidak akan berarti apa-apa. Bahkan mimpi kitapun tidak terpengaruh. Segala sesuatu yang ada di dunia ini diciptakan cukup. Tapi banyak orang yang walaupun sudah punya banyak, tetap saja merasa belum cukup, bahkan kurang. Nah, orang-orang semacam inilah yang kami sebut sebagai orang-orang miskin. Pada tahun 1987 saya sempat mendapatkan ‘wahyu’ berupa serentetan kata-kata yang bunyinya: “Lebih baik sedikit tapi cukup daripada banyak tapi kurang”.
    Konglomerat yang walaupun sudah punya 7 pabrik plus 8 hotel, tapi kalau dia masih saja merasa belum cukup, berarti orang ituu masih miskin. Tapi walaupun mungkin baru punya satu warung kecil dan orang itu sudah mau mensyukuri, maka orang itu sudah layak disebut sebagi orang kaya. Apalagi kalau dia sudah merasa mampu dan mau membantu orang lain yang perlu, pantas dan mau di Bantu, itu berarti dia sudah kaya raya. Dan tanpa malu-malu, kami para pendukung GARING berani menyatakan bahwa kami adalah orang-orang yang kaya raya he..he… Kedengarannya seperti sombong ya! Memang kami adalah orang-orang yang suka berpura-pura sombong, tapi niat kami positif. Melalui GARING, kami ingin mengembangkan kecemburuan berbuat social yang positif, justru untuk mengurangi kecemburuan social yang negatif. Lebih baik berpura-pura sombong, tapi positif, dari pada pura-pura rendah hati, tapi niatnya negatif.
  17. Apakah Anda tidak punya keinginan untuk buka cabang di Jakarta?
    Dulu, sebelum tahun 1987 memang saya masih suka mengejar uang. Tapi sejak tahun tersebut saya malah sadar bahwa uang itu tidak perlu di kejar, tapi juga tidak perlu dihindari. Tahun 1987 itulah saya justru menutup dua dari tiga to kami padahal semua toko kami (yang dua ada di Denpasar) sangat ramai dan sangat menguntungkan secara ekonomis.
    Sesuai dengan kesepakatan , kami tidak ingin berambisi untuk mengembangkan sayap kemanapun juga, apalagi ke Jakarta. 75% potential buyers kami adalah orang-orang Jakarta. Bayangkan saja bagaimana sibuknya kami kalau kami mau buka cabang di Jakarta yang penuh orang kaya itu? Dan yang lebih runyam lagi, kalau kami sampai benar-benar buka di Jakarta, tentunya orang-orang Jakarta yang biasanya ke Bali untuk mencari Joger tidak akan merasa perlu lagi buang waktu dan energi jauh-jauh ke Bali. Ini tentu akan mengurangi masuknya ‘devisa’ untuk Bali he..he..he..
  18. Kalau begitu Anda cukup Berjaya dong untuk perkembangan dunia pariwisata Bali?
    Berjaya atau tidak, itu adalah penilaian yang relatif. Tapi bagi saya, itu belum apa-apa, makanya saya ingin tetap membuat jasa bukan hanya untuk di Bali. Tapi juga untuk nusa dan bangsa bahkan juga untuk semua umat manusia. Tapi untunglah sampai saat ini rezeki saya masih terbatas, sehingga tanggung jawab saya juga terbatas he..he..he..
    Soal jasa, justru saya merasa berhutang budi pada Bali, tanah tumpah darah saya, dimana saya dilahirkan dan sampai saat ini masih boleh hidup sehat dan bermanfaat bagi anak-anak saya dan lingkungan. Jadi, kalau dulu ketika Joger masih bayi, Joger bisa tumbuh sehat karena suasana damai dan makmurnya Bali. Apa salahnya sekarang ketika Joger sudah tumbuh menjadi salah satu obyek tujuan wisata Bali, juga tetap mau sedikit menahan diri untuk tidak berhenti menjadi salah satu cirri khas daya tarik Bali. Kami memang tetap ingin agar Joger hanya ada di Bali saja, sehingga semua orang yang terlanjur jatuh cinta pada produk-produk dan kata-kata Joger yang terkenal justru karena jelek-jelek ini tetap mau berkunjung ke Bali yang indah dan sama-sama kita cintai ini.
  19. Aneh, Anda secara terang-terangan mengatakan bahwa produk dan kata-kata Joger jelek-jelek. Apakah itu tidak merugikan?
    Memang mungkin agak aneh, tapi saya rasa sama sekali tidak merugikan bahwa sebaliknya, saya khan hanya berusaha bersikap jujur dan ramah dalam di segala cuaca, lalu dari apa kira-kira saya bisa mendapatkan nafkah dan rezeki saya?
  20. Apakah Anda percaya pada nasib?
    Ya, saya sangat percaya pada nasib terutama nasib yang baik-baik. Tapi saya juga sangat percaya bahwa sebagai manusia kita juga diberi kesempatan yang sangat luas untuk ikut menentukan nasib kita. Dalam artian, marilah kita ber-Dokar ber-DOA dan berKARya secara optimal, lalu syukurilah kenyataaan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan Khan Maha Adil. Amin!

    KALAU ANDA SUKA JOGER
    BERARTI ANDA WARAS. TAPI
    KALAU ANDA TIDAK SUKA
    JOGER BERARTI ANDA LEBIH WARAS.

  21. Apakah Anda pernah ragu atau bimbang?
    Oh, tentu saja saya pernah dan bahkan juga boleh dikatakan sering bimbang dan ragu. Tapi sebagai manusia yang tidak sempurna saya selalu berusaha untuk tidak terlalu sering mengulang-ulang kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan saya. Memang saya belum sempat berjumpa dengan semua manusiayang ada di muka bumi ini. Tapi tampaknya saya juga tidak bimbang lagi kalau semua manusia yang ada di muka bumi ini pasti pernah bahkan sering bimbang dan ragu. Marilah kita bersyukur kalau kita masih diberi perasaan bimbang dan ragu. Karena itu menandakan bahwa kita adalah manusia dewasa.
  22. Jadi menurut Anda, orang dewasa itu harus sering-sering bimbang dan ragu?
    Wah, terus terang saja, pertanyaan Anda ini benar-benar membuat bimbang dan ragu he..he..he. Bersikap bimbang dan ragu bukanlah suatu keharusan, tapi untuk mendapatkan kepastian yang mantap sebaiknya kita penuh pertimbangan dulu. Seperti kata pepatah, pikr dulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Mudah-mudahan Anda sudah pernah mendengar teori yang membagi-bagi pribadi manusia atas tiga pribadi, pribadi yang pertama adalah pribadi “parent” atau pribadi orang tua. Ciri-cirinya, suka mendikte dan karena merasa lebih tua lalu hampir selalu merasa lebih tahu dan lebih benar, sehingga suka menasehati, legas dan sedikit otoriter. Pribadi Kedua adalah Pribadi “child” atau anak-anak. Ciri-cirinya, suka tidak mau tahu situasi dan kondisi, mau menang sendiri, suka merengek-rengek, belum banyak pertimbangan, suka merajuk dll. Pribadi ketiga adalah “adult” alias dewasa. Ciri-cirinya, suka bertanya-tanya sebelum memutuskan sesuatu, memikirkan kepentingan orang lain, mengerti perasaan orang lain, hati-hati, waspada, bertanggungjawab, penuh, pertimbangan sehingga sering tampak ragu-ragu atau bimbang.
    Alangkah indahnya hidup ini kalau kita lebih sering dan lebih bersikap dewasa. Tapi walaupun bagaimana segala sesuatu yang berpredikat “terlalu” itu pasti tidak baik. Baik itu jelas baik, tapi kalau sudah terlalu baik, tentu saja jadi tidak baik.
  23. Apakah ada orang yang berpendapat bahwa Anda figure yang sombong atau arogan?
    Tentu saja ada, bahkan saya rasa Anda sendiri juga mungkin punya pandangan bahwa saya sombong atau arogan, ya nggak? Tapi demi kebaikan anda sendiri, biarkanlah saya jelaskan bahwa pandangan anda tersebut adalah pandangan orang yang berfikir negatif, pesimis dan sedikit berbau amis. Kalau saja anda mau bersikap dewasa, mungkin sebaiknya anda berbimbang-bimbang dahulu sebelum menganggap saya sombong dan arogan. Sebenarnya saya setuju-setuju saja kalau ada orang yang berpendapat demikian.
    Tapi kalau menurut saya, saya ini sebenarnya hanya punya citra diri yang baik alias bangga terhadap diri saya tanpa menganggap orang lain lebih rendah atau lebih tinggi dari saya. Karena kenyataannya khan memang banyak orang jauh lebih hebat daripada saya di bidang-bidang yang lain. Tapi secara pelan-pelan dan tidak plin-plan saya telah ber-DOKAR (DOa & KARya) secara optimal untuk mencapai sesuatu tingkat yang lebih baik daripada diri saya sendiri. Dengan hati-hati tapi pasti saya menitibuih. Secara jujur dan ramah saya kenali diri saya yang penuh kekuatan dan kelemahan. Dengan ihklas saya sadari bahwa tidak ada manusia sempurna. Dari sebab itulah saya tidak terlalu marah kalau ada orang yang mungkin karena kurang pertimb ngan atau kurang waspada lalu secara “terlalu cepat” menilai orang lain sombong atau arogan.
    Sombong adalah sikap bangga yang tidak beralasan, dan tidak bisa diterima oleh orang yang kita ajak berinteraksi. Contohnya, kalau saya yang tidak mengerti soal-soal kewartawanan lalu sok jago bicara banyak tentang dunia kewartawanan dan memakai kekuasaan saya untuk memaksakan kehendak agar saya disangka lebih hebat dari orang yang berprofesi wartawan, itu berarti saya memang sombong atau arogan. Tapi kalau kita bicara soal pabrik kata-kata Joger, lalu saya lebih tau dan lebih menguasai tentang Joger, itu khan bukan sesuatu yang bisa dan pantas disebut sebagai kesombongan, ya toh!. Tapi walaupun bagaimana saya tetap minta maaf kalau sekiranya saya mungkin sudah bersikap agak terlalu bangga terhadap apa yang sudah saya capai melalui Pabrik kata-kata Joger yang jelek tapi menarik ini. Dan mungkin perlu juga saya ingatkan bahwa kalau kita menunjuk orang lain dengan jari telunjuk kita, pada waktu yang sama ibu jari kita akan mengarah ke tanah.Tapi jari tengah, jari manis dan kelingking kita justru mengarah ke diri kita sendiri he..he..he.. Don’t worry be happylah!.
    Tapi walaupun bagaimana, saya adalah saya, Anda adalah anda, mereka adalah mereka, dan secara subyektif tentunya merekaatau Anda punya hak untuk menganggap saya apa saja sesuai dengan apa yang Anda atau mereka pikir tentang saya, kalau mereka atau anda berpikir bahwa saya ini baik, berarti cara berpikir mereka dan andalah yang baik. Kalau mereka atau anda berpikir kalau saya ini negatif, berarti cara berpikir mereka atau andalah yang negatif. Tapi kalau mereka atau anda berpikir bahwa saya atau Joger ini jelek, berarti mereka dan anda benar, karena saya dan Joger ini memang jelek sejak dahulu kala. Kalau memang ingin hidup bahagia, marilah berpikir, berkata dan berbuat yang positif-positif saja, kecuali kalau anda memang punya cita-cita yang lain daripada yang lain he..he..he.
  24. Menurut “kabar angin”, katanya Pak Joger suka marah, bagaimana tanggapan Anda tentang kabar angin tersebut?
    Rupa-rupaya anda coba-coba memancing agar supaya marah, padahal memancing-mancing kemarahan orang lain adalah hal yang kurang baik. Dan marah itu sendiri suatu sikapyang tidak baik. Saat ini kebetulan saya sedang dalam keadaan siap, sehingga tidak sampai mau terpancing untuk ikut-ikutan tidak baik.
    Maka, saya putuskan untuk tidak terpancing untuk marah. Marah itu khan symbol kekalahan, dan merasa kalah itu sendiri juga bukan suatu situasi yang menyenangkan. Marah itu adalah sikap atau tindakan yang perlu dihindar, karena marah itu hampir selalu salah, jangankan marah kepada orang yang belum tentu salah, marah kepada orang yang jelas-jelas salahpun kita bisa disalahkan, apalagi marah kepada orang yang sedang marah dan punya kuasa he..he..he.
    Walaupun cara anda memancing-mancing kemarahan saya ini sudah bisa dikatakan tidak benar, tapi karena anda mungkin bisa balik marah dan saya anggap anda punya kuasa untuk menghakimi saya kalau saya marah, maka dengan sangat menyesal saya sampaikan kepada anda, bahwa untuk kali ini saya memutuskan untuk menahan diri dan tetap tidak terpancing untuk marah. Apalagi tadi anda mengatakan bahwa “menurut kabar angin”. Tentu saja kita tidak mungkin memarahi “kabar angin” , apalagi kabar angin ribut. Marah itu adalah hak segal bangsa, tapi sama sekali bukan merupakan kewajiban segala bangsa. Mana ada orang normal yang suka disebut “suka marah”. Kita marah khan karena terpaksa he.he..he. Dan untuk selanjutnya marilah kita jaga sikap kita, agar kita tidak terlalu sering memancing-mancing kemarahan orang lain tapi sebaliknya juga tidak terlalu mudah terpancing untuk “terpaksa” marah.
  25. Tampaknya Anda agak kesal dengan pertanyaan tentang “kabar angin” tadi?
    Wah, tampaknya Anda memang suka memancing-mancing agar saya mau terpaksa marah. Seperti yang sudah saya katakan, saya tidak mungkin marah, kecuali kalau terpaksa atau dipaksa. Dan saya mohon tolong jangan paksa saya untuk merasa terpaksa. Merdeka!

    Awas, jangan sembarangan!
    Tidak semua orang kaya itu
    miskin. Tidak semua orang
    miskin itu tertindas. Dan tidak
    semua pejabat suka KKN, apa
    lagi KKN dengan mahasiswa!
    (KKN = Kuliah Kerja Nyata)

  26. Anda sering memakai kata “Merdeka!”. Apa sih arti merdeka menurut Anda?
    Banyak orang beranggapan bahwa merdeka itu adalah bebas tanpa batas. Memang, merdeka itu sangat erat hubungannya dengan kebebasan, tapi tentunya kebebasan yang terbatas, sehingga tidak sampai mengurangi apa lagi merampas kebebasan orang lain. Kalau menurut saya pribadi, merdeka itu adalah suatu situasi dimana kita tidak menindas dan tidak ditindas, unsur tidak menindas harus kita dahulukan, karena kalau untuk tidak ditindas saja, itu adalah hal yang sifatnya cenderung pasif, tapi untuk tidak menindas justru dibutuhkan kekuatan dan tekad atau komitmen yang tegas terhadap diri sendiri, sehingga kita tidak tergelincir dalam situasi serakah dan sewenang-wenang.
    Jadi sebagai orang yang benar-benar merdeka kita harus tidak menindas dulu, baru bicara soal tidak ditindas. Karena orang yang menindas atau menjajah adalah orang-orang yang sebenarnya masih tertindas justru oleh keegoisan dan keserakahannya sendiri . Orang tertindas bisa saja menghindar dari penindasan orang lain, tapi orang-orang yang menindas, mana mungkin mereka bisa merasa seimbang dan damai dalam batinnya kalau suara hatinya selalu bertentangan dengan apa yang dia lakukan.
    Orang-orang yang suka menindas adalah orang-orang yang tidak perlu mati dulu untuk bisa masuk neraka, karena dengan sikap serakah dan kesewenang-wenangnya itulah mereka sebenarnya sudah mengundang neraka dating dan masuk ke dunia fana mereka. Jadi kalau boleh disimpulkan, maka selayaknyalah kita mengatakan bahwa penjajah dan penindas adalah orang-orang yang tidak merdeka. Mereka justru adalah orang-orang terjajah yang sebenarnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak merdeka.
  27. Banyak karya-karya Anda terasa agak menyimpang dari system tutur yang ada di masyarakat kita. Contohnya; “Kaya lebih baik dari pada miskin!” komentarnya?
    Saya ini Khan bukan ahli bahasa, dan saya juga bukan orang pintar. Tapi tampaknya saya punya keyakinan yang cukup untuk mendukung keberanian saya mengemukakan niat-niat baik saya melalui karya-karya saya yang secara tulus dan ikhlas saya akui sebagai karya-karya yang jelek-jelek. Tapi khan bukan salah saya kalau ternyata banyak anggota masyarakat dalam maupun luar negeri yang jatuh hati dan secara rutin menyumbang duit maupun simpatinya ke Joger Kuta Bali he..he..he.
  28. Beberapa orang anggota tim kreatif dalam pengerjaan desain-desain Joger?
    Anggota team kreatif kami sejak semula (1980) sampai saat ini (1998) masih tetap 5 orang. Yang pertama adalah word’s collector atau pengumpul kata-kata dari segala sumber dari segala penjuru angin, dari gunung, dari laut, dari danau, dari pohon, dari selokan-selokan, dari tong sampah, dari rumput, dari gadis, dari janda, dari duda dan lain-lainya.
    Anggota tim yang kedua adalah editor atau petugas yang tugasnya merangkai kata-kata menjadi kalimat-kalimat pendek, tapi diharap bisa bermakna luas. Anggota tim yang ketiga adalah petugas grafis yang tugasnya membuat dan mengatur letak gambar-gambar maupun susunan tulisan-tulisan.
    Anggota tim yang keempat adalah petugas pengatur komposisi warna. Anggota tim yang kelima adalah kritikus yang tugasnya mengeritik desain-desain dan kata-kata Joger agar tidak sampai bertentangan dengan moral , etika dan hokum dunia maupun akhirat. Tapi kami di Joger ini memang sangat beruntung, karena dari sejak masih merangkak 1980 sampai sekarang ini, kelima anggota tim tersebut diatas justru ada dalam diri saya sendiri he..he..he.
  29. Berarti Anda mengerjakan sendiri. Apakah itu tidak bertentangan dengan asas pemerataan dan undang-undang anti monopoli?
    Sebenarnya sih tidak se-ekstrim itu. Tapi itulah cara saya menyombongkan diri secara rendah hati atau merendahkan diri dengan cara sombong. Saya juga tidak menyangkal bahwa beberapa tahun yang lalu sebenarnya saya sudah pernah mencoba untuk membentuk tim yang tersendiri dari seorang sarjana bahasa Indonesia, seorang sarjana bahasa Inggris dan seorang sarjana seni grafis. Mereka saya tantang, apakah mereka mau di bayar sesuai dengan hasil karya atau gaji bulanan? Ternyata waktu itu (mungkin karena harga diri yang wajar) mereka memilih untuk dibayar sesuai dengan karya yang mereka hasilkan. Setiap karya dihargai sekitar Rp. 250.000 s/d Rp. 500.000,-
    Lalu tim tersebut menyatakan bahwa mereka akan bekerja sama membuat desain-desain. Tapi, kata merek, mereka akan membuat rancangan di rumah mereka masing-masing dan hanya sewaktu-waktu bertemu dengan saya untuk prose’s finishing. Setelah saya tunggu sebulan bahkan hampir dua bulan, ternyata belum satupun karya nyata yang berhasil mereka sepakati. Bahkan kemudian setelah tiga bulan berlalu, belum satupun karya yang terwujud.
    Tampaknya waktu itu mereka lebih sibuk berdebat dan silat lidah soal teknis dan tata bahasa. Atau mungkin justru karena mereka merasa terlalu bertanggung jawab sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.
    Padahal dalam kurun waktu yang tiga bulan itu saya yang tidak terlalu bertanggung jawab karena tidak terlalu ahli ini, malah sudah berhasil membuat sekitar 30-an desain yang sederhana dan jelek tapi laris terjual dan bisa langsung ikut menunjang kesejahteraan segenap anggota keluarga Joger plus berbuat social secara wajar sana sini. Tanpa ada maksud untuk mengurangi rasa hormat saya kepada disiplin-disiplin ilmu yang ada, tapi saya rasa saya akan ketinggalan kereta kalau saya dipaksa atau memaksakan diri untuk menekuni tata bahasa dan seni grafis yang “baik dan benar”. Padahal ide-ide dan kreatifitas alami yang siap pakai sudah menumpuk di dalam otak dan batin saya. Dari sebab itulah saya kemudian lebih suka memilih jalan untuk gila-gilaan dalam berkarya justru untuk mencegah agar saya tidak sampai benar-benar menjadi gila.
    Tapi mungkin sangat perlu saya ingatkan bahwa sebagai manusia biasa kita tidak mungkin bisa menyebut diri kita sebagai kreator 100% murni, karena hanya Tuhan-lah yang bisa menciptakan sesuatu yang benar-benar 100% baru. Ukuran untuk bisa dikatakan sebagai orang yang kreatif secara manusiawi, sebenarnya adalah kalau orang tersebut sudah dianggap bisa mencampur, menggabungkan dan mengubah hal-hal yang sudah pernah ada menjadi sesuatu yang seolah baru.
    Contohnya, banyak orang mengatakan bahwa saya ini kretif dalam memproduksi kata-kata. Padahal saya ini hanyalah kreatif dalam merangkai dan memanfaatkan kata-katayang sudah pernah ada menjadi sesuatu yang seolah-olah merupakan suatu karya yang baru. Begitu pula seorang pelukis, dianggap kreatif khan bukan karena dia bisa melukis sesuatu yang sudah pernah ada atau belum pernah dia lihat. Contohnya, seaneh-anehnya sebuah lukisan ikan yang mungkin mirip singa, itu tentunya merupakan hasil imajinasi si pelukis yang tentunya sudah pernah melihat ikan dan singa, tapi mungkin karena uniknya prose’s penggabungan dan kesan akhir yang berhasil dia ciptakn itulah si pelukis tersebut boleh kita anggap kita kreatif. Justru karena sadar bahwa kreativitas yang saya “miliki” ini tidak lepas dari pengaruh orang-orang maupun lingkungan, maka secara sadar dan tanpa diperintahkan oleh siapapun juga, kami selalu ingat menyisihkan sebagaian dari rezeki kami untuk bersyukur kepada Tuhan sebagai Yang Maha Kreatif atau sumber segala kreativitas yang ada.
    Tapi berhubung Tuhan sudah punya segala dan tidak butuh bantuan materi dari siapapun, maka hasil penyisihan rezeki kami itu pun kami salurkan langsung dan konsisten kepada orang-orang yang perlu, pantas dan mau menerima bantuan kami melalui moral kami yang bernama GARING.

    Untuk bisa tumbuh secara laras,
    kita harus punya kreatifitas dan
    aktivitas, bukan hanya fasilitas
    atau secarik kertas dari atas!

  30. Anda tampak sangat social dan relegius. Tapi apakah kesosialan anda dan kereligiusan Anda ini tidak hanya merupakan perwujudan rasa bersalah Anda yang sudah berhasil menumpuk harta dunia yang berlimpah? Tolong penjelasan pula tentang gerakan moral atau filosofi GARING yang Anda cetuskan dan manfaatkan untuk menyesatkan orang-orang ke jalan yang benar itu?
    Sebenarnya saya merasa bahwa pertanyaan Anda ini agak berbau curiga. Tapi kalau tidak saya jawab, berarti nanti Anda akan lebih curiga lagi he..he..he. Memang benar bahwa walaupun saya merasa cukup berjasa atas keberhasilan saya untuk memperkaya diri secara halal, tapi saya juga merasa cukup bersalah dalam menikmati kekayaaan ini sendirian. Karena itulah sejak mau mulai usaha untuk PMDN (Penanaman Modal Dunia), saya juga sudah membuat komitmen dengan Tuhan dan diri saya sendiri untuk secara konsisten dan konsekuen memperhatikan kesejahteraan diri sendiri. Tapi tentunya tanpa mengabaikan kesejahteraan orang lain yang perlu, pantas dan mau disejahterakan.
    Jadi sejak semula keberadaan Joger sudah didasari untuk menjadi kaya tanpa membuat atau membiarkan orang lain tetap miskin. Tapi secara jujur harus juga saya sampaikan bahwa dalam filosofi GARING, saya memang mengajak semua orang untuk pertama-tama harus bisa mencintai dirinya sendiri secara wajar, dan tentunya tanpa membenci atau menghancurkan orang lain.
    GARING adalah filosofi yang saya jalankan justru untuk menyeimbangkan antara PMDN dan PMA. Karena orang-orang yang PMDN dan PMAnya tidak seimbang bisa mengalami dua kemungkinan. Kalau PMDNnya terlalu banyak dan terlalu serakah, tentunya orang itu akan terlalu cepat dipanggil ke neraka. Tapi kalau PMAnya yang terllu banyak, tentu saja orang itu akan terlalu cepat dipanggil ke surga.
    Nah, berhubungan jiwa kita ingin kita arahkan ke surga, tapi kaki kita masih berpijak di bumi, marilah kita lakukan PMDN dan PMA secara seimbang dan wajar. Dan untuk mencari patokan keseimbangan antara dua hal tersebut itulah kita harus berani dan sering berdialog dengan hati nurani kita masing-masing.
    GARING yang merupakn sebuah gerakan moral dan social yang tidak bermuatan politik kami adakan, justru untuk mengimbangi keberadaan gerakan-gerakan politik yang sudah kehilangan muatan moral dan social nya. GARING bukan agama, tapi terdiri dari orang-orang yang beragama dan ber-Tuhan sekaligus (bukan hanya agama KTP). GARING tidak mengajurkan orang yang sudah beragama untuk pindah agama, tapi juga tidak melarang. GARING menganjurkan semua orang untuk secara wajar mengibarkan bendera agamanya setinggi-tingginya, asalkan jangan sampai lebih tinggi daripada bendera Tuhan.
    Dalam artian, marilah kita sebarkan agama kita yang baik dan suci juga. Karena walaupun bagaimana Tuhan adalah Yang Maha Baik. Janganlah menyebarkan agama dengan kekerasan atau pemaksaan, karena Tuhan sendiri tidak pernah menganjurkan kekerasan dan pemaksaan antar sesama manusia ciptaanNya.
    GARING bukan ajaran, tapi hanya sekedar ajakan. GARING adalah kumpulan orang-orang waras yang sudah merasa mampu dan mau bersyukur kepada Tuhan atas rezeki tiGA piRING sehari. Dalam GARING kami tidak menganggap berbuat baik sebagai kewajiban belaka, tapi justru lebih merupakan hak da kebutuhan.GARING tidak pernah sampai perlu di perintah atau di paksa untuk berbuat baik atau berbuat social. Dalam GARING tidak di kenal istilah pemimpin, karena dalam GARING semua orang dianjurkan untuk bisa dan mau memimpin dirinaya sendiri dengan bimbingan Tuhan melalui suara hati nuraninya.
    Tanpa ada maksud untuk meremehkan doa-doa ritual, kita di GARING berdoa lebih banyak dalam bentuk perbuatan positif yang nyata. GARING tidak memihak. Kecuali kepad kebenaran. Kita tidak memihak kepada orang maupun golongan apapun kalau mereka teidak benar, tapi kita juga tidak menentang orang maupun golongan apapun kalau mereka benar.
    Kebenaran yang Hakiki adalah kebenaran ILAHI. Kebenaran yang benar-benar adalah kebenaran yang tidak bertentangan dengan kebaikan yang relatif. Maka dalam GARING kita mengenal kebaikan yang tidak relatif yaitu kebaikan yang tidak bikin susah orang. Jadi dalam GARING kami menganjurkan kepada semua orang, berapapun kekayaan anda, dari manapun asal usul anda, apapun pangkat anda, berapa pun umur anda, apapun agama anda, minimal jangalah suka bikin susah orang. Dalam artian, janganlah suka bikin susah orang lain, tapi juga jangan sampai bikin susah diri sendiri, karena walaupun bagaimana , diri kita sendiri khan juga orang, bukan orong-orong. Orang-orang GARING berhenti makan sebelum muntah kekenyangan, berhenti marah sebelum terlalu parah, tidak mengambil apapun yang bukan hak nya. Agak ngotot sih boleh, tapi jangan ngoyo!
    Janganlah menyumbang mata kiri kalau mata kanan kita sudah rusak! Janganlah menyumbang kaki kanan, kalau kaki kiri kita sudah cacat! Tidak sombong ketika kaya, tidak mengemis ketika miskin, merasa kaya bukan hanya karena uang dan harta, tapi merasa miskin justru kalau tidak bisa membantu orang miskin. Berbuat baik bukan hanya karena ingin dapat pahala di masa yang akan dating, tapi berbuat baik justru karena merasa sudah banyak menerima kebaikan dari Tuhan Yang Maha Baik. Merasa menerima ketika memberi, merasa memberi ketika menerima, pagi, siang, sore maupun malam senantiasa mensyukuri hal-hal sederhana yang diberikan oleh Tuhan atas usaha dan kerja kita. Jujur dan ramah di segala cuaca. Berusaha membantu dan mempengaruhi orang-orang yang susah supaya jadi senang, kemudian membantu dan mempengaruhi orang-orang yang sudah senang menjadi lebih senang dan untuk selanjutnya mengajak orang-orang yang sudah terlalu senang agar mau membagi-bagikan ke senangannya kepada orang-orang yang belum senang secara senang hati.
    Berbicara soal GARING, ibarat bicara soal alam semesta yang luas hampir tanpa batas. Jawaban saya yang singkat ini tentunya sama saja seperti kalau kita berusaha memindahkan air samudra yang luas dengan ember kecil. Semoga saja inti GARING bisa anda tangkap, yaitu bagaimana caranya kita mensyukuri segala nikmat Allah, baik di saat suka mau pun duka, baik disaat baik maupun kurang baik, baik disaat jaya maupun tidak jaya, marilah kita percaya bahwa Tuhan adalah Maha Baik, Tuhan adalah Maha Kuasa. Sebtang jarum yang kecil pun tidak mungkin bergerak atau pindah tanpa seizing dan sepengetahuan Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin!

    “KAOS SERI 3M”
    MURAH MERIAH
    Dan DiTanGGunG
    100% MeRakyaT!
    Size S Rp. 10.000
    Size M Rp. 11.000
    Size L Rp. 12.000
    Size XL Rp. 12.500
    *SERI TROPICAL
    *SERI TERBATAS
    Satu Orang MAXi
    MAL Boleh Beli 3
    *Terima Kasih!*

  31. Sejak kapan Anda mempraktekkan filosofi GARING dan apa saja yang telah dilakukan GARING selama ini?
    Cara berpikir GARING sebenarnya sudah saya jalani sejak kami memulai usaha secara kecil-kecilan, dengan prinsip ekonomi yang wajar, yaitu bagaimana caranya mencari keuntungan sewajar-wajarnya juga. Karyawan (dulu) digaji bukan berdasarkan patokan umum atau UMR, tapi beberapa kali lipat lebih tinggi sesuai dengan masa bakti dan kebutuhan hidup yang layak.
    Kemudian setelah usaha kami berjalan setahun barulah kami mulai mencari anak asuh untuk dibantu sesuai dengan kemampuan kami waktu itu. Untuk tahun-tahun berikutnya kami mulai mengunjungi panti-panti asuhan. Lalu kami juga pernah selama 3 semester mengadakan kursus bahasa Inggris gratis khusus untuk orang-orang ELIT (ekonomi sulit) dengan bantuan pinjaman ruang kelas SMP/SMA Muhammadiyah Seblange Denpasar.
    Mengadakan bursa kerja membantu orang-orang kecil untuk mendapatkan kerja yang layak. Setiap bulan kami tutup satu untuk mengadakan kerja bakti / bakti social, membantu Ibu Paula merawat para penderita lepra di Antosari selama setahun, menyumbang para mahasiswi/wi KKN di beberapa tempat yang anggap kami perlu, pantas dan mau dibantu. Membangunkan serana MCK (Mandi Cuci & Kakus) mungkin sudah lebih dari 150 buah di beberapa daerah yang terpisah-pisah, bekerja sama dengan yayasan/institusi lain untuk memerangi kemiskinan (bukan memerangi orang miskin), dan sejak tahun lalu telah membeli sebidang tanah di Negara-Jembrana untuk dibangunkan sebuah DOJO (tempat latihan karate) untuk anak-anak karateka dikota Negara agar mereka tidak terlanjur menjadi anak jalanan.
    Dan disaat seperti sekarang ini, karena sedang musim bagi-bagi sembako, kami dengan senang hati “terpaksa” membuka pintu GARING untuk menerima dan menyalurkan sumbangan sukarela dari para pendukung GARING. Gerakan ini kami namakan GARING TRANSPARAN. Kalau anda merasa mampu dan mau ikut nyumbang, silahkan. Tapi kalau belum merasa mampu dan tidak mau ikut menyumbang, juga tidak apa-apa!.
    Wah, kalau cerita terlalu banyak, nanti dituduh pamer. Tapi yang jelas GARING akan tetap kami jalankan secara konsisten, karena gerakan GARING ini adalah gerakan moral atau gerakn social yang kami lakukan bukan karena adanya tuntutan dari luar atau karena ada “petunjuk” dari pejabat. GARING adalah murni 99% PMA (Penanaman Modal Akhirat) yang tidak menjanjikan pahala masuk surga, tap juga tidak menakut-nakuti dengan siksaan neraka. 99% hanya berdasarkan kesadaran.
  32. Kelihatannya cukup banyak juga yang telah dilakukan GARING, tapi kalau boleh tahu dari mana saja sumber dana penunjangnya?
    Sebenarnya sih tidah banyak. Dan yang jelas pasti tidak lebih banyak dari rezeki yang diberikan Tuhan kepada kami melalui Pabrik kata-kata Joger yang seperti bisa Anda lihat sendiri Khan hampir selalu ramai dikunjungi “dermawan dan dermawati” dalam maupun luar negeri.
  33. Lho, Anda koq menyebut mereka sebagai dermawan dan dermawati? Padahal mereka itukan cuma pembeli?
    Ini bedanya, kalau anda terlanjur cinta dan kemudian secara “terpaksa” menjadi langganan Pabrik kata-kata Joger. Suka tidak suka, mau tidak mau, otomatis Anda secara tidak langsung sudah ikut membantu orang miskin sedikit. Tapi sayang, suka tidak suka, mau tidak mau, Anda juga berarti sudah membantu keluraga Joger banyak he..he..he. Karena hanya sebagaian (kecil) dari keberuntungan bruto Joger yang kami sisihkan untuk PMA (Penanam Modal Akhirat) melalui gerakan social GARING. Tapi sebagian besar dari sisa keuntungan itu khan harus kami pakai untuk PMDN (Penanaman Modal Dunia) seperti membayar uang sakunya anak-anak (karyawan/ti), biaya telepon, biaya transportasi, pajak ini dan itu, sumbangan wajib sukarela, biaya renovasi gedung, beli alat-alat kantor, beli tinta cetak, beli komputer, biaya lisrik, biaya air minum, rekreasi, makan 3 kali sehari untuk semua rakyak Joger, air meneral untuk para pengunjung dan para dermawan dan dermawati, membangun perumahan untuk anak-anak Joger, beli mobil, beli sepeda motor dan lain-lainya bahkan juga termasuk untuk membiayai penerbitan Koran Joger Post Desa yang jelek ini.

    Mr. Joger hanya
    pencetus, tapi bukan
    pemimpin Garing, karena
    dalam Garing semua orang
    diharapkan bisa dan mau
    memimpin dirinya
    masing-masing!

  34. Berapa kira-kira omzet penjualan Joger rata-rata setiap hari?
    Pertanyaan seperti ini sudah berapa kali dilontarkan oleh beberapa wartawan. Kalau saya jawab sesuai dengan kenyataan, kami khawatir akan diejek oleh mereka-mereka yang omzet penjualannya sudah jauh lebih tinggi diatas omzet penjualan kami.
    Sebaliknya juga membangkit kecemburuan social yang negatif bagi mereka-mereka yang mungkin omzet penjualannya msaih jauh lebih kecil dari kami. Tapi yang jelas keuntungan kami sudah lama boleh dikatakan lebih dari cukup. Sehingga selalu ada sisa untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin yang mau, pantas dan perlu kita Bantu. Don’t worry be happy, PMDN dan PMA kami sampai saat ini masih seimbang. GARING!

    TAK ADA JANDA
    GADISPUN JADI!

    Tak ada akar, rotanpun jadi!
    Tak ada akar, rotanpun jadi!
    Tak ada akar, rotanpun jadi!

    AWAS DILARANG
    KENCING DISINI!

  35. Tampaknya hidup Anda bahagia sekali, tapi apakah mungkin ada keinginan atau obsesi anda yang belum tercapai?
    Kalau untuk saya dan keluarga Joger sendiri sih memang sudah tidak ada keluhan. Tapi belakangan ini kami sering merasa susah justru karena melihat orang lain banyak yang sangat susah, dan kami jadi makin susah lagi karena merasa belum berbuat banyak untuk membantu sesama yang susah-susah itu. Dan sekarang malah sudah terlanjur terjadi kerusuhan dan penjarahan yang tentunya akan melahirkan orang-orang susah lebih banyak lagi. Tolong janganlah perburuk keadaan! Merdeka!

+1. Syetem management apa yang sebenarnya Anda terapkan dalam mengelola bisnis Joger ini sehingga Joger bisa survise disegala cuaca?
Sebenarnya saya tidak pernah punya system management yang pasti karena system management yang saya terapkan di Joger ini bisa berubah-ubah sesuai dengan suara hati burani. Karena untuk setiap keputusan yang ingin saya atau kami buat. biasanya saya bermeditasi dulu. Tapi system meditasi saya sama sekali tidak rumit, karena bagi saya, meditasi itu adalah bagaimana kita secara total menyelaraskan pikiran, perkataan dan perbuatan kita untuk tujuan yang positif. Saya sangat percaya pada hati nurani, bahkan kalau boleh saya katakan, saya justru menganggap bahwa hati nurani yang diberikan oleh Tuhan secara gratis inilah anugrah yang paling berharga bagi saya. Banyak orang hidupnya tidak bahagia, padahal kalau saja mereka tahu apa penyebab dasar ketidak bahagiaan, tentunya segala sesuatu bisa jadi enteng.
Salah satu hasil meditasi yang pernah saya lakukan menyatakan bahwa sumber segala penderitaan manusia adalah perbedaan antara keinginan dan kenyataaan. Dan sayangnya banyak manusia justru sangat lemah dalam mengatur keinginannya. Bahkan banyak orang tidak megenal dirinya sendiri, tapi justru lebih mengenal tetangganya. Melihat tetangganya suka makan steak, setiap hari dia ikut makan steak, padahal tekanan darahnya sudah tinggi. Melihat tetangganya vegetarian lalu dia ikut-ikutan pagi, siang, malam setiap hari makan sayur-sayuran saja, padahal tekanan darahnya sudah sangat rendah. Melihat tetengganya beli onsiklopedia, lalu diapun ikut-ikutan beli onsiklopedia secara kredit, tapi kemudian tidak pernah dibaca. Melihat tetangganya beli mobil, lalu ikut-ikutan beli mobil secara kredit, pada hal untuk bayar kredit ensiklopedianya saja sudah menyita jatah uang saku anak-anaknya. Masalah itu biasanya datangnya tidak sekaligus, tapi kalau mereka dating sekaligus, jangan heran kalau kita jadi stress berat alias depresi, dan kalau sudah depress, tentunya kita tidak mungkin bisa mencari nafkah lagi.
Dan kalau sudah tidak punya sumber nafkah lag, berarti kita harus hidup dari sedekah. Siapa sih yang suka hidup dari sedekah? Nah, mumpung belum terlambat, marilah kita atur dan kontrol keinginan-keinginan kita. Untuk itulah kita harus sering-sering berdialog dengan hati nurani. Untuk tahap-tahap pertama mungkin perlu agak dipaksa, tapi pada suatu tahap tertantu yang biasa disebut pencerahan atau enlightenment. Nah, mulai saat itulah kita akan menyatu dengan suara hati nurani kita. Dengan mengerti suara hati nurani kita. Dengan mengerti suara hati nurani kita sendiri, sebenarnya kita juga secara otomatis akan mengerti suara hati nurani orang lain, walaupun kadang-kadang kita akan sedikit mengalami kesulitan berinteraksi dan mengerti orang-orang yang suara hatinya sudah tertutup dengan rasa kecewa, benci, iri, dengki, amarah dan pikiran-pikiran negatif lainnya.
Dengan mengerti suara hati nurani kita sendiri dan menjalankan perintah-perintahnya secara konsekuen dan konsisten, kita akan secara otomatis bersikap adil seperti alam semesta yang tidak hanya rata seperti permukaan air, tapi juga berrelief, ada yang menonjol seperti gunung, tapi ada juga yang cekung seperti lembah. Dan kalau kita sudah menyatu dengan suara hati nurani kita dan tidak lupa mempraktekkanya, berarti kita sudah mulai mengundang surga turun ke dunia yang fana ini, Tapi kalau kita sudah berfikir, berkata da berbuat hal-hal yang bertentangan dengan suara hati nurani kita sendiri, itu berati kita sudah mulai mungundang neraka naik ke dalam kehidupan kita dan orang-orang disekitar kita.
Tanda-tanda orang yang tidak mengenal hati nurani mereka sendiri; tidak suka melihat orang lain hidup damai, sering berfikir negatif, orang diam dituduhnya sombong, orang berargumentasi dituduhnya keras kepala, orang rajin dituduhnya hanya memikirkan diri sendiri, orang menganggur dituduhnya malas, orang bersikap ramah terhadap sesama dianggapnya cari muka, orang sedih dituduhnya sok alim, pancaran matanya menyengat karena sarat dipenuhi rasa iri dan dengki.
Orang-orang semacam ini biasanya hidup susah dan secara langsung maupun tidak langsung juga akan membuat orang-orang yang dekat dengan diri mereka ikut susah dan muram. Banyak orang mengira bahwa untuk memimpin sebuah perusahaan kita harus menguasai teori-teori managemen yang rumi-rumit dan setumpuk. Memang tidak ada salahnya belajar teori-teori, tapi seharusnya kita jangan lupa untuk mempraktekkannya, dan mungkin di Joger yang kecil dan jelek ini, situasinya memang terbalik, dimana kami di Joger ini justru mengelola perusahaan kami secara kekeluargaan yang sepenuhnya dibimbing oleh hati nurani kami yang aktif setiap saat secara sederhana. Lalu kemudian datanglah orang-orang cerdik dan pandai merumuskan atau mencocokkan dengan teori-teori yang sudah mereka pelajari di universitas atau akademi.
Saya harap Anda tidak lagi menuduh bahwa Joger arogan atau sombong, karena sesuai kenyataan kami hanya punya keyakinan yang sangat kuat dan positif terhadap apa-apa yang sudah, sedang maupun akan kami lakukan demi kelangsungan hidup kami yang bukan hanya kaya, tapi juga bahagia. Ya, kami memang sangat bahagia, tapi sama sekali tidak berbahaya.

+2. Melihat kesuksesan Joger yang Anda kelola, mungkin ada kiranya sedikit nasehat atau saran yang Anda ingin berikan kepada teman-teman sesama pengusaha yang ada di negeri Indonesia tercinta ini?
Kalau sukses itu Anda artikan sebagai bahagia, berarti saya sangat bahagia dianggap sukses. Tapi kalau sukses itu Anda samakan dengan ke berhasilan memiliki banyak uang dan harta dunia belaka, mungkin lebih baik saya tidak dianggap sukses saja.
Saya rasa Anda pasti menganggap saya sukses karena kami memang benar-benar merasa bahagia dan kaya raya karena kami sudah melakukan PMDN & PMA yang relatif seimbang, maka dengan senang hati saya mau memberi saran, tapi sama sekali bukan memberi nasehat, konotasinya nanti bisa jadi benar-benar arogan dan sombong dalam artian yang negatif. Marilah kita penuhi keinginan Anda.
Denagn ini saya, Joseph alias Mr. Joger ingin mengajak semua pihak bukan hanya para pengusaha saja, tapi semua orang, tidak peduli siapapun Anda, berapapun jumlah kekayaan Anda, betapapun miskinnya Anda, berapapun banyak hutang Anda, apapun agama Anda, apapun kewargenagaraan Anda, betapapun pribuminya Anda, atau betapapun non-pribuminya Anda, atau siapapun mertua Anda, berapapun anak Anda, marilah kita dengar suara Tuhan Yang Maha Baik dan Maha Pengasih melalui suara hati nurani kita, agar kita tidak sampai serahkah dan mentang-maentang!
Yang kebetulan sudah kaya dan berkuasa janganlah mentang-mentang kaya dan mentang-mentang berkuasa, dan bagi yang mungkin kebetulan masih miskin dan tidak punya kuasa janganlah mentang-mentang miskin dan mentang-mentang tidak punya kuasa.
Karena menurut penyelidikan sudah terbukti bahwa kaya dan merdeka jelas lebih baik daripada miskin dan tertindas. Maka janganlah setelah kaya dan tidak tertindas lalu kita malah membuat dan membiarkan saudara-saudara kita yang lain tetap miskin dan tertindas. Kalau saja yang kaya dan berkuasa tidak mentang-mentang kaya dan tidak sok kuasa, tentunya yang miskin dan tidak punya kuasa tidak perlu sampai terpaksa mentang-mentang miskin dan mentang-mentang tidak punya apa-apa. Kami para pendukung GARING tidak pernah mau memihak kepada siapapun, kecuali kepada kebenaran. Persamaan kata benar adalah betul, tapi kami para pendukung GARING hanya mau membela kebenaran, bukan membela kebetulan, apalagi kebetulan yang betul!

+3. Apakah benar Joger tidak memproduksi sendiri barang-barang yang dijual di Joger? Kenapa tidak diproduksi sendiri? Padahal dengan memproduksi sendiri khan untungnya bisa lebih banyak?
Ya, Dengan sadar dan ikhlas kami memang tidak mau memproduksi sendiri, bukan karena tidak bisa, tapi justru karena tidak mau. Sesuai dengan semangat GARING, sampai saat ini kami tetap konsisten untuk tumbuh dengan mengajak orang lain ikut tumbuh. Lagipula kalau kami bikin sendiri dan dijual sendiri. Nanti khan kami sendiri saja yang kaya, sedangkan teman-teman yang lain akan gigit jari. Lha, kalau jari-jari mereka sudah habis , bisa jari kitalah yang akan digigit he..he… Joger bukanlah koperasi, tapi jiwanya 99% dilandasi semangat kekeluargaan dan gotong royong. Sampai detik ini kami sudah punya (atau baru punya) sekitar 36 kelompok plasma kecil yang mengerjakan barang-barang (kaos oblong, mug, keramik, gerabah, kulit, kerajinan kayu, kerajinan bamboo dan lain-lain) tapi desain-desain masih tetap lebih banyak dari kami. Kaya saja sudah baik, apa lagi kalau bisa cepat kaya, tapi terlalu cepat kaya akan bisa kaget dan mengagetkan. Lebih baik wajar-wajar sajalah! GARING!.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *